Buku Etika Politik Ibnu Taimiyah “Relasi Pemerintahan dan Rakyat”

buku-ibnu
Etika Politik Ibnu Taimiyah “Relasi Pemerintahan dan Rakyat” Penulis Dedi Syaputra

Pengantar Penulis

Ibnu Taimiyah salah satu tokoh pemikiran Islam yang sangat original, beliau tidak hanya cerdas dalam gagasan pembaharuan terhadap Islam, tetapi juga cerdas dalam gagasan etika politik pemerintahan yang seharusnya. Ibnu Taimiyah berpendapat, setiap ruang yang ada dalam kehidupan ini tentu semuanya bersumber pada al-Quran dan Sunnah, ia sangat tegas bahwa seorang pemimpin harusnya menjalankan apa yang sudah terkandung dalam teks-teks al-Quran dalam menegakan amal ma’ruf dan nahi mungkar.

Dalam etika politiknya, Ibnu Taimiyah mempertanyakan tindakan-tindakan para elit-elit politik apakah sudah sejalan dengan perintah Allah SWT dan Rosul-Nya dalam menjalankan roda pemerintahannya. Dalam ungkapan yang sangat populer bagaimana etika seorang pemimpin dan yang dipimpin adalah “Sesungguhnya mahluk itu adalah hamba-hamba Allah, dan para pemimpin adalah wakil-wakil Allah untuk hamba-hamba-Nya. Pada saat yang sama, mereka juga menjadi wakil-wakil hamba atas diri mereka sendiri, untuk itu jalinlah kerjasama antar sesama”.

Buku ini bermula dari tesis saya berjudul al-Siyâsah al-Syar’îyyah fî Ishlâh al-Râ’î wa al-Ra’îyyah yang saya tulis untuk memperoleh gelar Magister Studi Islam, konsentrasi Studi Politik dan Pemerintahan dalam Islam, Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ada banyak orang yang membantu saya dalam menyelesaikan tugas akhir ini. Tanpa bantuan mereka sulit rasanya saya untuk merampungkan studi saya. Mungkin saya tidak bisa menyebutkan nama-nama mereka satu persatu dalam buku ini, tapi ada beberapa guru, keluarga, sahabat, dan kolega yang saya hendak sebutkan dalam buku ini.

Continue reading Buku Etika Politik Ibnu Taimiyah “Relasi Pemerintahan dan Rakyat”

“Hakikat ketaqwaan bagi orang-orang yang berfikir” “Khutbah Aidul Fitri 17 Juli 2015/1436 H”

lebaran-1024x7511Hadirin kaum Muslimin dan Muslimat sidang Hari Raya Idul Fitri yang dimuliakan Allah SWT.

Pagi yang indah ini, kita masih diberikan kesehatan dan kesempatan dapat menikmati Indahnya merayakan kemenangan. Selama 30 hari penuh kita berjuang menahan lapar dan dahaga, tidak hanya itu, kita menahan gejolak hawa nafsu yang tidak baik mengarahkan kita kepada perbuatan merusak puasa.

Hadirin kaum Muslimin dan Muslimat sidang Hari Raya Idul Fitri yang dimuliakan Allah SWT.

Setiap tahun di Kalender Hijiriah, seluruh umat Islam merayakan Hari Raya Idul Fitri. Tidak hanya kita yang berada di Perumahan SBI saja, akan tetapi hampir di seluruh dunia, ketika seorang hamba yang beriman menjalankan semua kewajiban yang diperintahkan kepadanya, maka sudah sepatutnya seorang hamba merayakannya.

Hari Raya Idul Fitri adalah puncak kemenangan atas hamba-hamba Allah SWT yang sudah menjalankan rukun Islam keempat, yaitu puasa di bulan Romadhan dan juga hamba-hamba Allah SWT yang sudah mensucikan diri dan hartanya dengan mengeluarkan zakat, sebagai manifestasi dari ketaatan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Allah SWT dalam al-Quran Surat at-tin Ayat 6.

         
Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.

Hadirin kaum Muslimin dan Muslimat sidang Hari Raya Idul Fitri yang dimuliakan Allah SWT.

Continue reading “Hakikat ketaqwaan bagi orang-orang yang berfikir” “Khutbah Aidul Fitri 17 Juli 2015/1436 H”

ABSTRAK “ETIKA POLITIK IBNU TAIMIYAH”

Islam tidak sedikit dianggap sebagai agama politik moral sebagai representasi dan pengijawantahan dari aspek hukum Islam, yang mengatur seorang muslim dalam berbagai aspek kehidupan keagamaan, sosial dan politik. Aturan itu yang mengatur hubungan penguasa dengan rakyatnya, hubungan sosial dan politik, Muslim dan non-Muslim semuanya diperlukan tatanan etika, atau perilaku moral menjadikan hukum-hukum agama sebagai sumber penetapan sangsi moral. Islam memiliki dimensi-dimensi etika politik yang jauh lebih komprehensif, mulai dari dimensi tujuan, sarana dan aksi dari aktor politik itu sendiri. Akan tetapi dalam etika politik, perilaku seorang pemimpin menentukan arah kebijakan bagi yang dipimpin, kehendak baiknya yang ditopang institusi (hukum, aturan, kebiasaan, lembaga sosial) yang adil, mampu berperan mengorganisir tanggung jawab atas etika yang lahir dari sebuah kesepakatan bersama (konsensus/ijmak). Etika politik Ibnu Taimiyah, melihat semua pola hubungan manusia dengan rasa kemanusiaan, sekaligus mengarahkan kaum muslim untuk meraihkan kekuatan dan kemuliaan dengan mengukir sejarah kebesaran. Ungkapan tersebut sesungguhnya, Ibnu Taimiyah menginginkan ada pola pelayanan yang baik antar manusia, yang beroperasi dengan dakwah “seruan proporsonal” manhajiyah, menciptakan hubungan yang transparan atas kepentingan bersama antar umat yaitu pemimpin dengan yang dipimpin, yang mengembalikan hukum dengan perbuatan manusia menuju pada hukum transedental ciptaan Allah SWT, di dalamnya terdapat rincian penerapan hukum dalam kehidupan manusia Dalam kerangka itulah penulis melihat gagasan tersebut, Ibnu Taimiyah tampil dengan konsep amal ma’ruf nahi mungkar-nya “etika politik”merupakan kewajiban semua umat Islam untuk melaksana tanggung jawab ini, dalam rangka untuk memilihara rakyat “people” dari negara yang melupakan keadilan dan amanah atas titipan Tuhan. Kajian ini merupakan penelitian kepustakaan, dengan mengunakan pendekatatan deskriptif analitik, yaitu secara sistematik peneliti mendeskripsikan dan mempelajari karya-karya Ibnu Taimiyah berupa latar belakang pemikiran dan sosial politik kehidupannya, hermeneutika salah satu cara penemuan kembali (hermeneutics of recovery) sebagai penegasan tujuan dari interprestasi untuk menemukan makna asli suatu praktek sosial atau politik tertentu. Menurut penulis, karya al-Siyâsah al-Syar’îyyah fî Ishlâh al-Râ’î wa al-Ra’îyyah Ibnu Taimiyah panduan utama penulis dalam penelitian ini. Dalam proses penegakan pemerintahan yang baik, gagasan besar yang diinginkan oleh Ibnu Taimiyah negara yang ideal adalah melaksanakan prinsip-prinsip atau nilai-nilai politik yang baik yaitu akuntibel (al-amânah), keadilan (al-adâlah), persaudaraan (al-ukhûwah), menghargai kemajmukan atau pluralisme (al-ta’addudîyah), persamaan (al-musâwâb), permusyawaratan (al-syûrâ), mendahulukan perdamaian (al-silm) dan kontrol (amr bi al-ma’rûf nahy ‘an al-munkar), al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber utama dalam pandangan hidup (way of life), standar etika bagi Ibnu Taimiyah adalah berdasarkan wahyu Tuhan.

Continue reading ABSTRAK “ETIKA POLITIK IBNU TAIMIYAH”

PERUBAHAN IAIN KE UIN “MEMBANGUN SEBUAH PARADIGMA BARU”

Oleh Dedi Syaputra
A. Pendahuluan
Perkembangan modern Islam timbul sebagia akibat dari perubahan-perubahan besar dalam demensi kehidupan manusia yang dibawa oleh kemajuan dalam ilmu pengetahuan. Masalah-masalah yang ditimbulkan dalam bidang keagamaan, termasuk Islam lebih pelik yang terdapat dibidang-bidang kehidupan. Salah satu sebabnya adalah karena dalam agama terdapat ajaran-ajaran yang absolut, mutlak benar, kekal, tidak dapat dirobah, dan mengkontekkan halal dan haram pada dataran yang sangat mudah. Dari persoalan itu, agama seolah jadi Tuhan nomor dua di dunia, tidak bisa di gugat, dan menimbulkan dogmatis dalam agama, yang melahirkan sikap tertutup dan tak bisa menerima pendapat yang bertentangan dengan dogma-dogma yang dianutnya. Sikap sepertinya membuat orang berpegang teguh pada pendapat-pendapat lama dan tidak bisa menerima perubahan. Sikap dogmatisme ini membuat orang bersikap tradisonal, emosional dan dan tidak rasional. Sedangkan sifat dari ilmu pengetahuan dn teknologi adalah perkembangan, selalu mengalami perubahan dan membawa perubahan dalam kehidupan. Continue reading PERUBAHAN IAIN KE UIN “MEMBANGUN SEBUAH PARADIGMA BARU”

Jangan ditanya lagi, “Demokrasi atau Tidak” Indonesia??

Oleh : Dedi Syaputra
Sebelum membahas tetang buku ini, istilah demokrasi di Indonesia tidak usah diragukan lagi. Pergulatan demokrasi dapat kita artikulasi dengan perubahan dalam sistem politik. Sejak 1945-1959 kita “Negara Indonesia” kenal dengan demokrasi Parlementer, ternyata kurang cocok untuk Indonesia, salah satunya lemahnya kekuatan legitimasi president (rubber stamp president). Pada tahun 1959-1965, lahir lagi demokrasi terpimpin, ditandakan oleh dominasi presiden terlalu kuat. Menurut Syafi’i, demokrasi terpimpin menempatkan Soekarno sebagai ayah dalam famili besar bernama Indonesia. Pada tahun 1965-1998 setelah Soekarno jatuh, lahir lagi konsep sistem politik bernama demokrasi pancasila.
Indonesia dan demokarsi adalah satu atap dalam sistem politik Indonesia. Menurut saya, studi yang dilakukan oleh Saiful Mujani adalah sebuah perlawan hipotesis “uji teori” dalam pembuktian atas tuduhan Barat terhadap dunia Islam, bahwa Islam dan demokrasi tidak saling memberi harapan bahkan keduanya saling bertentangan.
Dalam studi yang dilakukan oleh Saiful Mujani, ada tiga aspek untuk mengukur demokrasi. Pertama, demokrasi mencakup unsur saling percaya antar sesama warga (interpersonal trust), keterlibatan kewarganegaraan (networks of civic engagement), tolenransi, keterlibatan politik, kepercayaan pada institusi politik, kepuasan terhadap kinerja demokrasi, dukungan terhadap prinsip-prinsip demokrasi, dan dukungan terhadap masyarakat politik modern (nation-state). Kedua, partisipasi politik sebagai seperangkat aksi politik yang bersifat sukarela, pemilihan umum, voting dan sampai pada titik protes masyarakat dengan tujuan mempengaruhi kebijkan publik. (hlm. 313).
Continue reading Jangan ditanya lagi, “Demokrasi atau Tidak” Indonesia??

MASYARAKAT SIPIL

Dedi Syaputra
Selamat Membaca
Buku Larry Diamond, Developing Democracy (Yogyakarta : IRE Press, 2003).

Membangun demokrasi yang utuh, matang, dan berwibawa, salah satunya adalah membangun   tatanan masyarakat sipil yang proporsional dan kreatif. Tapi tidak cukup itu saja, bagaimana prannya dalam mengimbangi pemerintah yang demokratis, itu yang sangat penting dalam laju kencang demokrasi.
Tapi banyak orang yang tidak mengerti, siapa yang sebenarnya masyarakat sipil itu? Apa prannya dalam negara yang menjunjung demokrasi?, di sini saya mencoba membahasnya, dengan panduan buku dari Diamond ini.
Tulisan Diamod ini lebih mengarah pada pran masyarakat sipil, Akan tetapi tidak bisa kita pungiri bahwa pengaruh elit memiliki dampak yang besar dalam mentukan apakah Negara demokrasi baru menjadi stabil, efektif, dan terkonsolidasi. Dampak tersebut menjangkau pada tipe-tipe lembaga atau aturan yang dibuat oleh para elit, apakah system parlementer atau presidensial; apakah Continue reading MASYARAKAT SIPIL

Perempuan berpolitik, kenapa tidak?? “Boleh Kok” DALAM POLITIK ISLAM

Oleh; Dedi Syaputra

A. Pendahuluan

Dalam Islam, antara laki-laki dan perempuan sama, tidak ada yang lebih tinggi kedudukan, hak-hak, dan kewajiban. Islam mengajarkan bahwa yang membedakan adalah ketakwaan seseorang. Dalam konsep Islam, laki-laki dan perempuan adalah ciptaan yanng memiliki kedudukan yang sederajat. Selain memiliki persamaan, di antara keduanya perbedaan yang terletak pada faktor bialogis yang bersifat kodrati. Akan tetapi perbedaan ini tidak membuat sebuah persepsi, bahwa perempuan lemah, sedangkan lagi laki-laki sebaliknya.

Perbedaan secara kodrati itu yang menyebabkan keduannya saling membutuhkan karena “peran biologis” tidak dapat di gantikan atau di pertukarkan, semua peran tersebut di arahkan pada jalankan fungsi regenerasi. Secara biologis perempuan harus menjalankan fungsi reproduksi, maka beban kebutuhan finansial diserahkan pada laki-laki, semuanya diperuntukkan regenerasi dan bukan sebagai legitimasi superioritas laki-laki.

Continue reading Perempuan berpolitik, kenapa tidak?? “Boleh Kok” DALAM POLITIK ISLAM

"Islam itu indah, dan suka keindahan"