UNTUK SOSIALISME ABAD KE-21

Posted on Updated on

catatan A. Umar Said

PRESIDEN VENEZUELA HUGO CHAVEZ MENGANJURKAN PENGAMBILAN KEKUASAAN

Barangkali, bagi banyak orang di Indonesia, terutama bagi para pendukung rejim militer Orde Baru, perkembangan situasi di banyak negeri-negeri Amerika Latin yang menunjukkan perubahan-perubahan ke kiri dan anti-AS, merupakan suatu hal baru yang mengherankan atau bahkan mengejutkan. Ini dapat dimengerti. Sebab, rejim militer Suharto telah memaksa rakyat Indonesia, sejak puluhan tahun, untuk bersikap memusuhi politik kiri yang anti-imperialisme dan anti-kapitalisme yang digariskan oleh presiden Sukarno, dan anti-sosialisme atau anti-komunisme.

Perkembangan situasi di Amerika Latin akhir-akhir ini makin menarik perhatian banyak orang di berbagai negeri di dunia, bukan saja karena terpilihnya mantan tapol perempuan (Michelle Bachelet) menjadi presiden terpilih di Cili, atau terpilihnya pemimpin gerakan petani suku Indian (Evo Morales) di Bolivia sebagai presiden yang anti-Amerika, tetapi juga karena aksi-aksi politik yang revolusioner presiden Venezuela, Hugo Chavez.

Sejak perlawanan yang sudah dilakukan Fidel Castro selama puluhan tahun menghadapi Amerika Serikat, maka dewasa ini nampak dengan jelas bahwa sebagian dari benua Amerika Latin sudah – dan sedang – bergerak ke arah kiri. Kalau proses pergeseran ke kiri ini berjalan terus, dan mencakup makin banyak negeri lainnya maka akan mempunyai dampak yang cukup besar di dunia internasional. Sayang sekali, bahwa perkembangan yang penting ini kurang sekali (atau sedikit sekali) diketahui oleh banyak orang di Indonesia. Sebab, media pers Indonesia juga jarang sekali atau sedikit sekali menyiarkan berita-berita tentang perkembangan di benua Amerika Latin ini. Karena itu, bisalah dikatakan bahwa banyak orang di Indonesia yang “ketinggalan” dalam mengikuti perkembangan di Amerika Latin.

PERKEMBANGAN PENTING SESUDAH PERANG DINGIN

Padahal, apa yang terjadi di Amerika Latin dewasa ini, merupakan perkembangan yang amat penting sekali, bahkan terpenting, sesudah terjadinya Perang Dunia ke-II dan selesainya Perang Dingin (dalam bentuknya yang lama). Dalam kaitan ini, perlulah kiranya dicermati bahwa berbagai pemilihan presiden akan diadakan tidak lama lagi di Kostarika (dalam bulan Februari 2006), di Peru (dalam bulan April), Kolombia (bulan Mei), di Mexiko (Juli) dan Nikaragua (November). Dan sejak sekarang banyak orang sudah melihat bahwa sejumlah tokoh-tokoh kiri di sejumlah negara-negara Amerika Latin sedang menjadi makin populer dimana-mana, dan mungkin sekali banyak di antara mereka yang akan terpilih sebagai presiden.

Ditambah dengan posisi tengah-kiri yang selama ini dipegang oleh Argentina, Brasilia, Ekuador, maka boleh dikatakan bahwa tahun 2006 ini akan membawa benua Amerika Latin ke arah yang makin tidak menguntungkan kepentingan imperialisme AS. Sampai akhir tahun 2006 ini akan diselenggarakan pemilihan presiden di banyak negara-negara Amerika Latin (mendekati 10 negara),

Memang, tokoh-tokoh politik kiri atau tengah-kiri di berbagai negeri Amerika Latin itu mempunyai kadar yang berbeda-beda dalam sikap mereka terhadap imperialisme AS atau kapitalisme neo-liberal. Dan, juga, tidak semuanya mempunyai sikap yang sama terhadap sosialisme atau komunisme. Tetapi boleh dikatakan bahwa pada umumnya mereka bukanlah orang-orang kanan yang reaksioner atau tokoh-tokoh yang memihak kepentingan Washington, seperti halnya kebanyakan presiden atau diktator-diktator Amerika Latin di masa yang lalu.

Ini kelihatan dalam sikap Hugo Chavez di Venezuela, Michelle Bachelet di Cili, Lula di Brasilia, Nestor Kirchner di Argantina, Tabaré Vazquez di Uruguay, Lucio Guttierez di Ecuador, Evo Morales di Bolivia, Ollanda Humala di Peru, Andrés Manuel Lopez di Meksiko, dan Daniel Ortega di Nicaragua.

PERAN TOKOH MILITER KIRI

Kiranya, bagi banyak orang di Indonesia, salah satu di antara banyak hal yang menarik dari perkembangan di Amerika Latin adalah adanya tokoh-tokoh militer kiri, seperti mantan Kolonel pasukan para, Hugo Chavez, yang terpilih langsung (dalam tahun 1998) oleh rakyat menjadi presiden Venezuela. Hugo Chavez, yang sangat populer di kalangan bawah rakyat Venezuela dewasa ini merupakan presiden kiri yang terang-terangan mengibarkan bendera anti-imperialisme (terutama AS), dan menentang kapitalisme-internasional dan neo-liberalisme. Ia juga presiden yang dengan jelas dan terang-terangan menjalankan politik yang kiri dan mengandung ciri-ciri sosialisme.

Ada lagi yang barangkali juga menarik untuk diperhatikan, ialah munculnya seorang pimpinan militer kiri di Peru, Kolonel Ollanda Humala, yang menjadi calon presiden dalam pemilihan umum yang akan diadakan dalam bulan April 2006 ini. Seperti halnya Hugo Chavez di Venezuela, ia juga seorang tokoh di Peru yang sangat populer di kalangan rakyat ( terutama di kalangan suku Indian) dan juga terkenal sebagai pemimpin gerakan yang anti-imperialisme AS. Ollanda Humala disoroti oleh banyak pers Amerika Latin sebagai sahabat dekat Hugo Chavez.

Dengan terpilihnya baru-baru ini Evo Morales sebagai presiden kiri di Bolivia, dewasa ini sudah banyak komentar tentang kemungkinan terjadinya poros anti-imperialis yang terdiri dari Kuba-Venezuela-Bolivia-Peru. Inilah yang sudah ditakutkan oleh pemerintah AS dan sekutu-sekutunya di Amerika Latin. Sebab, dapat dimengerti bahwa terbangunnya poros anti-AS yang terdiri dari 4 negara itu betul-betul akan merupakan tantangan besar atau bahaya nyata bagi pengaruh hegemonis AS di benua Amerika Latin.

Imperialisme AS yang sudah 45 tahun tidak bisa menghacurkan pemerintahan Kuba di bawah pimpinan Fidel Castro, sejak tahun 1998 juga terpaksa harus menghadapi munculnya “pembangkang” keras lainnya, yaitu presiden Venezuela Hugo Chavez. Bagi AS, tampilnya Hugo Chavez sebagai presiden Venezuela betul-betul membikin “sakit kepala” banyak pembesar-pembesar di Washington. Karena,sejak ia terpilih menjadi presiden, ia telah menunjukkan sikap kirinya, yang membela kepentingan rakyat miskin di negerinya, dan melawan kapitalisme internasional.

Oleh karena itu, dalam tahun 2002 CIA berusaha campur tangan dalam kudeta terhadap kekuasaan yang sah presiden Hugo Chavez, dengan menyokong gerakan yang dilancarkan sejumlah opsir-opsir tentara Venezuela dan kapitalis-kapitalis dalamnegeri. Kudeta ini didahului oleh demonstrasi ratusan ribu orang di ibukota Venezuela (Caracas), yang mengepung gedung maskapai minyak negara Petroleos de Venezuela dan istana kepresidenan Miraflores. Berkat dukungan yang besar sekali dari rakyat kepada presiden Hugo Chavez, kudeta yang didalangi oleh imperialisme AS ini hanya berumur dua hari saja. Sebagian besar tentara yang setia kepada presiden Hugo Chavez bersatu dengan rakyat untuk merebut kembali kekuasaan yang sah, dan membebaskan presiden Hugo Chavez yang ditahan di suatu pangkalan militer. (Tentang Hugo Chavez ini banyak hal yang bisa dicermati bersama lebih lanjut pada kesempatan lainnya)

SOSIALISME ABAD KE-21

Salah satu dari berbagai pertanda tentang pentingnya perkembangan di Amerika Latin dapat dilihat dari diselenggarakannya Forum Sosial Sedunia yang diadakan di Caracas antara tanggal 24 Januari sampai 29 Januari 2006, yang dihadiri oleh lebih dari 70. 000 orang dari berbagai negeri di dunia dan sekitar 5000 pekerja pers internasional dan media massa lainnya. Ribuan wakil atau delegasi LSM dari banyak negeri di dunia telah hadir dalam pertemuan besar ini.

Forum Sosial Sedunia di Caracas ini, yang merupakan Forum Sedunia yang ke-6, sebagai kelanjutan yang diadakan di Porto Allegre (Brasilia) dalam tahun 2001 dan yang terakhir di Bamako (Mali) telah menunjukkan corak politik anti-neo liberalisme dan anti-AS yang lebih menonjol dari pada yang sudah-sudah. Forum Sosial Sedunia di Caracas diliputi oleh suasana “kemenangan kiri” di benua Amerika Latin. Selama dilangsungkan Forum banyak dibicarakan orang tentang Kuba, Venezuela, Bolivia, Cili, Argentina, dan perkembangan di Peru atau Meksiko.

Menurut siaran kantor berita Reuters (30 Januari 2006) dalam Forum ini jugalah Hugo Chavez menganjurkan kepada aktivis-aktivis gerakan altermondialis untuk memikirkan pentingnya pengambilan kekuasaan. “Hanya dengan mengambil kekuasaan kita dapat memulai mengubah dunia”, ujar mantan perwira parasutis ini, yang sejak dipilih menjadi presiden dalam 1998 berusaha menciptakan di Venezuela “sosialisme abad ke-21”.

Ketika menerima para wakil organisasi-organisasi sosial dalam Forum, presiden Hugo Chavez mengatakan bahwa walaupun Forum Sosial merupakan bagian dari gerakan untuk menentang neo-liberalisme kita perlu mendampinginya dengan strategi untuk mengambil kekuasaan politik. Dalam kaitan ini ia menyebutkan sebagai contoh pemilihan secara demokratis bulan yang lalu Evo Morales, seorang pemimpin gerakan tani dan pembela hak-hak masyarakat Indian, sebagai presiden Bolivia.

Dengan mengutip Ernesto “Che” Guevara yang dibunuh di Bolivia tahun 1967 ketika ia berusaha membentuk basis-basis gerilya, Hugo Chavez menyatakan harapannya akan munculnya satu, dua atau tiga Bolivia di Amerika Latin, untuk menentang politik neo-liberal dan juga “buas” dari Washington.

BUSH TERORIS PALING BESAR DI DUNIA

Sikap anti-AS yang dimiliki Hugo Chavez sejak lama sebelum jadi presiden, kelihatan sekali selama Forum Sosial Sedunia d Caracas. Berkali-kali ia mengutuk imperialisme AS, dan mengatakan bahwa Bush adalah “teroris yang terbesar di dunia”.

Di depan para wakil organisasi-organisasi sosial yang datang dari berbagai negeri di dunia ini, Hugo Chavez menempatkan dirinya sebarisan dengan pahlawan nasional Simon Bolivar, yang menjadi sumber inspirasi bagi revolusi yang sedang berjalan di Venezuela dan negeri-negeri lainnya. Hugo Chavez mengatakan bahwa “orang-orang gila” seperti dirinya dan Fidel Castro akan menciptakan “integrasi Amerila Latin” dan mengajak Forum Sosial untuk menempuh jalan “sosialisme abad ke –21”.

Mengingat sikapnya yang terang-terangan makin keterlaluan anti-AS ini, banyak orang menduga bahwa Washington tidak akan membiarkan terus Hugo Chavez menjalankan politiknya untuk membentuk poros Kuba-Venezuela-Bolivia, atau untuk membantu munculnya satu, dua atau tiga Bolivia lainnya di Amerika Latin. Hal-hal yang tidak terduga masih bisa saja terjadi atas diri Hugo Chavez dan kekuasaannya, baik yang berupa aksi-aksi subversi, sabotase ekonomi atau diplomatik, atau bantuan gelap lainnya untuk terjadinya lagi kudeta dll dll.

Sebagai negara yang cukup kaya dengan sumber minyak setengah dari pendapatan negara Venezuela adalah dari minyak. Produksi minyak mentah tiap harinya sekitar 3 juta barrel dan 75% -nya diekspor. Pendapatan devisa dari hasil ekspor minyak berkisar antara 3 miliar dan 4 miliar dollar US setahunnya. Venezuela adalah eksportir minyak nomor 5 di dunia, dan 13% kebutuhan minyak AS tiap harinya.disupply oleh negaranya Hugo Chavez ini.

Jadi, jelaslah bahwa minyak merupakan urat nadi untuk negara dan rakyat Venezuela. Hal ini jugalah yang menyebabkan negara ini menjadi sorotan dan perebutan kepentingan berbagai fihak. Tetapi, presiden Hugo Chavez sudah menunjukkan selama ini bahwa Venezuela di samping menggunakan hasil kekayaan buminya untuk pembangunan “sosialisme Bolivar” bagi kesejahteraan dan kemajuan rakyatnya, juga untuk membantu negara-negara lain, seperti Kuba, Bolivia dan Argentina.

Dengan semangat ini pulalah maka Hugo Chavez memberikan dana yang besar untuk terselenggaranya Forum Sosial Sedunia di Caracas itu, yang merupakan forum ideal baginya untuk menyebarkan gagasannya tentang “sosialisme abad ke-21”, tentang perlunya gerakan-gerakan sosial di berbagai negeri ditingkatkan mengarah kepada pengambilan kekuasaan (melalui pemilihan umum yang demokratis) seperti yang dilakukan oleh Evo Morales di Bolivia, tentang “Bush adalah teroris terbesar di dunia”.

Yang tersebut di atas adalah sekadar sekelumit hal-hal tentang Forum Sosial Sedunia, tentang Hugo Chavez, tentang “revolusi Bolivar”, tentang “sosialisme abad ke-21” , tentang Amerika Latin yang bergeser ke-kiri. Kiranya, bagi banyak orang di Indonesia (dan juga di luarnegeri!) ada baiknya untuk selanjutnya mengikuti – kadang-kadang atau sewaktu-waktu – perkembangan situasi di negeri-negeri Amerika Latin. Sekadar untuk bahan pengetahuan atau sebagai bahan renungan.

Memang, situasi dan persoalan-persoalan yang terdapat di Indonesia banyak yang berbeda dengan yang ada di Venezuela atau di negeri-negeri Amerika Latin lainnya. Di Indonesia, rejim militer Suharto sudah menjadikan imperialisme (AS, terutama) sebagai sekutunya dalam menghancurkan kekuataan politik Presiden Sukarno beserta pendukungnya yang utama ,yaitu Partai Komunis Indonesia. Berlainan dengan militer di bawah Hugo Chavez (dan nantinya mungkin militer di Peru di bawah Kolonel Ollanda Humala), militer Indonesia -terutama TNI-AD – dipaksa untuk mengambil posisi reaksioner yang anti-Sukarno dan anti-komunis.

Dalam hal-hal tertentu, tokoh besar dan “bapak revolusi” Amerika Latin, Simon Bolivar, ada persamaannya dengan Bung Karno, tokoh nasionalis kiri, yang pernah menjadi “bapak revolusi” bangsa Indonesia. Sayang sekali, bahwa tokoh besar bangsa Indonesia ini dikhianati oleh para pendiri dan pendukung Orde Baru.

Barangkali dari sudut inilah kita bisa melihat bahwa revolusi di Amerika Latin bisa akan memberikan dorongan yang penting untuk terjadinyua perubahan-perubahan di dunia nantinya. Slogan yang sudah mulai berkumandang di banyak negeri “L’autre monde est possible” (Another world is possible – Dunia yang lain adalah mungkin ) mulai makin terdengar lebih lantang dan lebih luas lagi !!!

Paris, 30 Januari 2006

MENGAPA BENUA AMERIKA LATIN
BERGESER KE ARAH « KIRI »


Sejak akhir tahun 2005 sampai akhir tahun 2006 peta politik benua Amerika Latin besar kemungkinan akan mengalami perubahan yang penting, dengan adanya pemilihan presiden yang diselenggarakan di 11 negara di benua ini. Perubahan penting yang akan terjadi dalam jangka waktu setahun ini adalah bahwa mungkin sekali tendensi pergeseran ke kiri di benua ini akan menjadi kenyataan. Inilah yang menjadi problem besar yang harus dihadapi oleh pemerintah AS dalam masa-masa yang akan datang.

Sebab, ini berarti bahwa Washington akan kehilangan pengaruh yang selama berpuluh-puluh tahun sudah dipupuk dengan segala cara dan jalan. Bergesernya benua Amerika Latin ke kiri akan membahayakan imperialisme AS, yang selama ini sudah menjadikan berbagai lembaga internasional seperti IMF, Bank Dunia, WTO, dan maskapai-maskapai Amerika dan multinasional sebagai alat mengeduk keuntungan sebesar-besarnya di kawasan ini.

Sejak berakhirnya Perang Dunia ke-II, berbagai negeri di benua ini sudah mengalami banyak dan bermacam-macam gelombang politik yang berturut-turut dan silih berganti : timbulnya gerilya dan diktatur-diktatur militer dalam tahun-tahun 70-an, munculnya demokrasi dalam tahun-tahun 80-an, diperkenalkannya model neo-liberal dan globalisasi dalam tahun-tahun 90-an, dan yang terakhir pergeseran ke-kiri, seperti yang diperlihatkan secara pragmatis oleh presiden Brasilia Lula, atau yang secara populis dan revolusioner oleh presiden Venezuela Hugo Chavez.

Pada dewasa ini, dengan kadar yang berbeda-beda, dan juga dengan cara yang tidak sama – dari yang paling lunak sampai yang paling keras – politik kiri dan tengah-kiri sedang dianut oleh pemerintahan di Venezuela, Bolivia, Kuba, Panama, Argentina, Uruguay, Cili dan Brasilia. Yang patut diperhatikan di sini ialah bahwa para pemimpin negara-negara tersebut dipilih secara demokratis lewat pemilu, kecuali yang di Kuba yang mempunyai sejarah tersendiri.

Diselenggarakannya 11 pemilihan presiden dalam jangka 14 bulan, dengan jarak waktu yang berdekatan, diduga oleh banyak orang bahwa hasilnya akan bisa mempunyai pengaruh yang tidak kecil bagi yang satu kepada lainnya. Apalagi kalau diingat bahwa saluran informasi antar-negara dan penyebaran pendapat sekarang ini sudah makin cepat, makin canggih, dan makin banyak. Ditambah lagi adanya faktor Kuba, Venezuela, dan Bolivia, yang jelas-jelas menentang imperialisme AS secara keras.

Sekarang masih sulit diperkirakan untuk berbagai negeri di Amerika Latin sebesar apa dan sampai di mana pengaruh terpilihnya seorang perempuan sosialis bekas tapol Michelle Bachelet menjadi presiden di Cili, dan juga terpilihnya pemimpin gerakan petani Bolivia Evo Morales sebagai presiden sosialis di Bolivia. Tetapi, bagaimana pun juga, sudah dapat diramalkan bahwa pada akhir 2006 benua Amerika Latin sudah akan banyak berubah dari pada yang sekarang ini.

Pada permulaan Januari 2006 Michelle Bachelet dipilih (dengan 53,22% suara) sebagai presiden Cili, disusul oleh kemenenangan Evo Morales sebagai presiden Bolivia (dengan 54% suara). Wakil dari partai-partai kanan dan ultra-kanan, yang umumnya pro-Amerika dan disokong kalangan reaksioner dalamnegeri, dikalahkan oleh calon-calon yang berhaluan kiri atau tengah-kiri. Demikian juga, banyak kemungkinan bahwa dalam pemilihan presiden yang akan diadakan di Peru (9 April 06), di Kolombia (28 Mei 06), di Meksiko (2 Juli 06), di Brasilia (1 Oktober 06), di Ekuador (Oktober 06), di Nikaragua (5 November 06) dan di Venezuela (3 Desember 06), calon-calon presiden yang terangan-terangan pro-AS tidak akan terpilih oleh rakyat, kecuali yang di Kolombia. Untuk pemilihan di Kosta Rika (5 Februari 06) calon sosialis dikalahkan oleh calon Kristen-demokrat.


MENGAPA AMERIKA LATIN BERGESER KE KIRI

Sudah sejak lebih dari 20 tahun belakangan ini, nampak sekali bahwa benua Amerika Latin sudah meningggalkan atau menolak segala macam kekuasaan yang otoriter, atau diktatur-diktatur militer yang sering sekali dilahirkan oleh berbagai kudeta, yang umumnya dilancarkan oleh kaum reaksioner dalamnegeri dan bersekongkol dengan imperialisme AS. Sejak itu pula, benua ini dilanda oleh “angin populisme” atau “gelombang kiri”. Pada dewasa ini kira-kira 300 juta dari seluruh penduduk Amerika Latin yang berjumlah 350 juta, hidup di bawah berbagai pemerintahan demokratis yang boleh dikatakan “berwarna kiri” atau “berbau tengah-kiri”.

Dari survey yang diadakan baru-baru ini diadakan di 18 negara Amerika Latin, hanya setengah dari penduduk Amerika Latin yang betul-betul menganut faham sebagai demokrat. Banyak pengamat politik yang kuatir akan terjadinya pergeseran kawasan ini ke arah kiri, dan memperingatkan tentang munculnya gerakan-gerakan sosial dan partai-partai politik kiri dengan kekuatan yang tidak ada bandingannya dengan masa yang lalu (…warns that new social movements and leftists parties have reappeared with unparalleld strength – VOA 20/1/06).

Seorang pakar Amerika tentang Amerika Latin, Alvaro Vargas Llosa mengatakan “Populisme sudah datang kembali di Amerika Latin. Kita mengira bahwa sudah menanggalkan populisme ini akhir tahun 80-an dan permulaan 90-an, namun ia datang kembali dengan kekuatan penuh. Dan populisme ini akan menjadi komponen utama dari bidang politik dan ekonomi Amerika Latin dalam beberapa tahun yad (Populism is coming back to Latin America. We thought we had gotten rid of it at the end of the 1980s and early 1990s, but it’s coming back with force. And it is going to be a major component of Latin American politics and economics in the next few years – VOA 20/1/06).

Mark Weisbrot, pimpinan Center for Economic and Policy Researh di Washington mengatakan bahwa pergeseran ke kiri banyak negeri Amerika Latin adalah merupakan serangan-balasan atau pukulan-balik terhadap kegagalan berbagai reformasi ekonomi dan kebijakan yang dianjurkan oleh IMF dan Bank Dunia dalam tahun-tahun 1980-an. Menurutnya, pengalaman selama 25 tahun menunjukkan kegagalan yang tiada taranya dalam sejarah Amerika Latin. Selama itu kemajuan ekonomi hanya sedikit sekali. Sejak tahun 1980 pendapatan penduduk per capita meningkat hanya kira-kira 10%. Oleh karena itu, para calon presiden di Argentina, Brasilia, Venezuela, Uruguay, Ecuador, dan Bolivia baru-baru ini, semuanya menentang neo-liberalisme. Sekarang, para pemimpin populis ini terutama sekali menekankan diutamakannya egalitarisme (persamaan) sosial, dan tidak menghargai anjuran-anjuran yang diberikan oleh IMF dan pemerintah AS.


CITA-CITA BESAR SIMON BOLIVAR

Secara geo-politis benua Amerika Latin terdiri dari 21 negara besar dan kecil, yang terbentang antara sungai Rio Grande di Utara sampai Antartika di Selatan. Brasilia merupakan negara terbesar, baik dari segi wilayah maupun penduduk. Kira-kira 40% luas tanah Amerika Latin adalah wilayah negara Brasilia dan sepertiga penduduk benua ini adalah wargenegara Brasilia.

Sejak dijajah oleh kaum conquistador dari Spanyol sekitar tahun 1500, benua yang kaya ini telah menjadi ajang rebutan dan penjarahan berbagai bangsa Eropa, terutama bangsa Spanyol, dengan membunuhi secara besar-besaran penduduk asli suku Indian di banyak wilayah. Kekuasaan secara despotik ini berlangsung lama sekali, sampai kira-kira 300 tahun, ketika pecah perang pembebasan dari penjajahan Spanyol.

Tokoh besar dalam perjuangan untuk pembebasan dari penjajahan Spanyol ini adalah Simon Bolivar, yang juga dikenal dengan julukan “ el libertador” (pembebas). Simon Bolivar ini memimpin perang di wilayah yang sekarang dinamakan Venezuela, dan juga membebaskan Ekuador, Peru dan Bolivia. Perjuangan revolusioner untuk pembebasan ini berlangsung kira-kira selama 10 tahun.

Cita-cita Simon Bolivar pada wakltu itu adalah membangun United States of Latin America, yang meliputi wialayah dari sungai Rio Grande sampai Tierra del Fuego di dekat kutub Selatan. United States of Latin America ini bertujuan untuk melawan kolonialisme dan memberikan persamaan hak bagi semua orang, termasuk orang-orang Indian yang kulit berwarna dan kaum budak yang berkulit hitam. Tetapi, cita-citanya ini tidak terrealisasi, sampai wafatnya dalam tahun 1830. Sampai puluhan tahun terakhir ini, kaum reaksioner dan borjuasi besar kulit putih telah menghalangi terlaksananya cita-cita Simon Bolivar yang luhur ini.


KEBANGKITAN AMERIKA LATIN

Sejarah Amerika Latin beberapa ratus tahun sejak datangnya para penjajah Spanyol, dengan gamblang menunjukkan bahwa kaum penjajah ini sedikit sekali mendatangkan kemakmuran, kesehatan dan kebahagiaan kepada rakyat berbagai negeri benua ini. Segolongan kecil dari para penjajah yang berkulit putih ini selama ratusan tahun memegang kekuasaan pemerintahan dan tuan-tuan tanahnya menguasai lahan-lahan yang subur dan luas sekali. Penduduk aslinya, yang kebanyakan terdiri dari suku-suku Indian (dan budak-budak Negro) diusir dari tanah mereka, dan dipaksa hidup dalam gubuk-gubuk atau perumahan sederhana sekali, yang terdapat di daerah pedalaman dan pegunungan.

Ketika memasuki jaman modern, kalangan borjuasi besar dan feodal Spanyol ini berangsur-angsur menjalin hubungan ekonomi (dan politik) dengan neo-kolonialisme yang datang dari AS. Perusahaan-perusahaan besar Amerika, dengan dukungan dan bantuan penuh dari pemerintah AS menancapkan kakinya di berbagai negeri Amerika Latin. Sejak puluhan tahun belakangan ini, Amerika Latin menjadi “halaman belakang” AS atau wilayah pengaruh AS. Persekutuan antara berbagai kekuatan imperialis AS dengan kalangan borjuasi reaksioner dan feodal di berbagai negeri di benua ini, ternyata lebih kejam dan lebih tidak bermanusiawi dari pada kaum pendahulu mereka di masa yang silam.

Sebagai salah satu contoh yang menyolok tentang keadaan yang sangat menyedihkan di banyak negeri Amerika Latin adalah keadaan di Venezuela sebelum Hugo Chavez menjadi presiden sejak tahun 1998. Venezuela adalah negara yang kaya dengan minyak (dan penghasil minyak nomor lima di dunia). Tetapi kaum elite yang memegang kekuasaan politik dan ekonomi telah merampok kekayaan bumi Venezuela secara besar-besaran. Akibatnya, sebagian terbesar rakyatnya hidup sengsara. Kalangan atas yang merupakan 10% dari seluruh penduduk yang berjumlah 23 juta orang memiliki separoh dari pendapatan nasional. Kira-kira 40% dari penduduk hidup dalam kemiskinan total yang sangat parah. Apa yang terjadi di Venezuela juga terjadi di banyak negeri Amerika Latin lainnya, bahkan dalam bentuk yang lebih parah lagi.

Dengan latar belakang politik dan ekonomi yang demikian inilah berbagai negeri di Amerika Latin pada dewasa ini sedang mencari jalan baru menuju masyarakat yang lebih adil dan lebih makmur. Jalan lama, yaitu jalan kapitalis seperti yang dianjurkan oleh IMF, Bank Dunia, dan WTO, sudah pernah mereka tempuh bertahun-tahun. Dan hasilnya adalah yang serba negatif, dan serba lebih menyengsarakan rakyat. Berbagai negeri Amerika Latin ini sekarang sedang memandang ke “arah kiri”, dan berusaha menggalang bersama-sama persatuan atau persekutuan yang diinspirasikan oleh gagasan-gagasan besar Simon Bolivar.

Kebangkitan rakyat-rakyat berbagai negeri Amerika Latin, adalah fenomena penting dan bersejarah bagi situasi internasional ini, dalam melawan kekuatan imperiaslisme AS yang sekarang makin dimusuhi oleh banyak fihak di berbagai penjuru dunia. Sebagian dari kebangkitan ini diberi nama Revolusi Bolivarian, yang juga disebut sebagai sosialisme partisipatif, atau sosialisme demokratik.

Dalam proses kebangkitan rakyat-rakyat berbagai negeri Amerika Latin ini, peran yang dimainkan oleh presiden Venezuela menjadi makin penting dan juga makin menonjol sekali. Dalam banyak hal, peran yang dimainkan Hugo Chavez sudah melebihi peran Fidel Castro dari Kuba. Namun sosok Fidel Castro masih tetap disegani oleh banyak orang di Amerika Latin dan di bagian lain dari dunia.

Itulah sebabnya, mengapa kalangan yang berkuasa di Washington akhir-akhir ini makin menunjukkan sikap permusuhannya kepada Hugo Chavez. Mereka menganggap bahwa Hugo Chavez sekarang lebih berbahaya dari pada Fidel Castro, dan menjadi tokoh yang paling penting di Amerika Latin. Karena, Hugo Chavez, dan para pendukungnya, sudah menggunakan kekayaan minyak negara mereka untuk “mengekspor revolusi Bolivarian” ke berbagai negeri di benua ini.

Di samping itu, di bidang internasional, Hugo Chavez juga mengadakan kerjasama atau hubungan baik dengan negara-negara penting di dunia, seperti India, RRT dan Rusia. Tetapi yang paling tidak disenangi AS adalah bahwa Venezuela menjalin persahabatan dengan fihak-fihak yang menjadi “musuh” AS, seperti Kuba, Iran, Siria (dan baru-baru ini juga dengan Hamas di Palestina). Semua ini membikin Hugo Chavez sebagai tokoh kiri yang harus dijatuhkan atau dihancurkan oleh imperialisme AS.

Tetapi, situasi internasional dewasa ini sudah jauh berlainan sekali dengan situasi dalam tahun 1965, ketika Bung Karno di kudeta oleh Suharto dan kawan-kawannya di Angkatan Darat. Karena itu, bagi imperialisme AS tidak mudah untuk membendung pergeseran ke kiri yang sedang ditempuh oleh berbagai negeri di Amerika Latin. Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya.

Paris, 21 Februari 2006

PRESIDEN BOLIVIA EVO MORALES

TOKOH KIRI YANG DIMUSUHI AMERIKA

Dilantiknya pemimpin gerakan tani Bolivia, Evo Morales, sebagai presiden terpilih pada tanggal 22 Januari 2006, bukan saja merupakan peristiwa menggembirakan yang bersejarah bagi rakyat Bolivia, tetapi juga bagi rakyat berbagai negeri di Amerika Latin, bahkan juga bagi banyak orang di bagian-bagian lainnya di dunia. Peristiwa ini merupakan bagian dari serentetan perkembangan yang menarik sekali, yang menggambarkan bahwa sejumlah negeri-negeri Amerika Latin sedang bergeser “ke kiri”.

Oleh karena itu, kemenangan Evo Morales dalam pemilu di Bolivia menjadi perhatian pers dunia.

(Kiranya, bagi sebagian dari pembaca patut diingat lagi, bahwa Bolivia adalah negeri yang dijadikan Che Guevara sebagai basis permulaan – sesudah Kuba- dalam usahanya untuk menyebarkan revolusi di negeri-negeri Amerika Latin. Ia datang ke Bolivia dalam bulan November 1966. Setelah bergerilya di pegunungan dan pedesaan Bolivia, ia di bunuh dalam tahun 1967 oleh tentera Bolivia yang kerjasama dengan CIA. Sekarang, barangkali Che Guevara tersenyum di makamnya karena gembira melihat kemenangan Evo Morales).

Pelantikan Evo Morales sebagai orang suku asli Indian yang pertama kali untuk menjadi presiden Bolivia merupakan peristiwa besar dan penting, yang disambut dengan gembira oleh bermacam-macam suku Indian yang tersebar di benua Amerika Latin, Amerika Tengah dan juga Amerika Utara. Sebab, selama ratusan tahun sejarah Bolivia, pembesar-pembesar pemerintahan selalu terdiri dari orang-orang kulit putih. Karena itu, ada kalangan yang menafsirkan fenomena Evo Morales sebagai kebangkitan harga diri suku Indian, yang sudah diinjak-injak dimana-mana selama ratusan tahun.

Lagi pula, Evo Morales dipilih oleh majoritas suara (sekitar 54%), dalam pemilu yang diselenggarakan untuk penduduk sebesar 11 juta orang itu. Sejak 1982, ketika Bolivia mulai mengecap kehidupan yang agak demokratis (relatif) belum pernah ada seorang presiden yang terpilih dengan persentase suara sebesar itu. Karena itu, banyak pakar memandang pemilihan Evo Morales betul-betul mempunyai legitimitas dan popularitas yang tinggi sekali, melebihi semua pemimpin-pemimpin Bolivia lainnya di masa yang lalu.

FENOMENA MORALES YANG MENARIK

Banyak segi-segi yang menarik tentang fenomena Evo Morales (umur 46 tahun) yang bisa diungkap. Ia adalah anak dari petani miskin dari suku Indian Aymara yang hidup sengsara di kota kecil pegunungan Orinuca. Ketika kecil ia ikut bapaknya yang bekerja sebagai pekerja migran di Argentina. Kemudian ia berkelana di berbagai daerah di Bolivia sebagai pemain trompet dalam kelompok musik bar. Setelah timbul gerakan sosial di kalangan petani coca, ia kemudian menjadi salah seorang di antara aktivisnya yang terkemuka.

Ketika ia melihat bahwa perjuangan sosial di kalangan petani-petani coca ini perlu ditingkatkan menjadi gerakan politik , maka partai yang bernama MAS (singkatan dari bahasa Latin Movimiento Al Socialismo, “gerakan menuju sosialisme”) yang dipimpin Evo Morales menjadi kekuatan politik yang terbesar dan terkuat di Bolivia. Melalui kampanyenya yang terang-terangan mengutuk kejahatan-kejahatan perusahaan-perusahaan multinasional, mengkritik praktek-praktek neo-liberalisme dan globalisasi yang dilakukan oleh IMF, Bank Dunia, dan WTO, Evo Morales juga banyak bicara tentang pentingnya negara Bolivia mengkontrol pengelolaan gas bumi, yang merupakan cadangan besar sekali di benua Amerika Latin.

Selama memimpin MAS kelihatan sekali bahwa Evo Morales mempunyai sikap anti-Amerika yang kuat sekali. Karena itu, ia dianggap oleh berbagai kalangan sebagai “momok” atau “duri” bagi kepentingan AS di kawasan ini.

Morales mengatakan bahwa ia tidak menyukai kapitalisme. Sejarah penjajahan Spanyol di Bolivia menunjukkan bahwa penjarahan besar-besaran kekayaan bumi Bolivia yang berupa timah hanya untuk kekayaan kapitalis-kapitalis Spanyol, sedangkan orang-orang dari suku Indian, yang merupakan majoritas penduduk, tidak mendapat apa-apa atau sedikit sekali.

ARTI KEMENANGAN EVO MORALES

Kantor-berita Aljazeera Net (31 Desember 2005) menyiarkan berita yang antara lain mengatakan bahwa “Evo Morales yang berhaluan sosialis telah disambut sebagai pahlawan di Havana. Pemerintah Kuba menyambut pemilihan Evo Morales sebagai kemenangan penting atas pengaruh AS di kawasan ini. Fidel Castro mengatakan :” I think that it has moved the world. It’s something extraordinary, something historic. The map is changing” (Saya berpendapat bahwa kejadian ini telah menggerakkan dunia. Ini adalah sesuatu yang luarbiasa, sesuatu yang bersejarah. Peta bumi sedang berobah”.

Mungkin, seperti yang dikatakan oleh Fidel Castro bahwa terpilihnya Evo Morales sebagai presiden Bolivia memang merupakan peristiwa yang luarbiasa , yang bersejarah, yang menggoyang dunia dan yang sedang merobah peta bumi. Untuk mencoba mengerti tentang pentingnya peristiwa ini, kiranya kita bisa melihatnya dari berbagai sudut pandang

Banyak kalangan yang menafsirkan bahwa kemenangan dan pemilihan Evo Morales sebagai presiden Bolivia merupakan suatu perkembangan politik yang penting di Amerika Latin. Sebab, kemenangan ini diusung atau digotong oleh MAS (Movimiento Al Socialismo) yang terang-terangan anti-kapitalisme (dan, dengan sendirinya, anti-AS). Jadi, pada prinsipnya, corak atau arah politik MAS adalah jelas kiri, dan berhaluan sosialis.

Sekarang, kelihatan bahwa kemenangan Evo Morales ini disambut hangat oleh Hugo Chavez dari Venuzuela dan Fidel Castro dari Kuba. Dengan derajat yang berbeda-beda, tetapi tetap dalam rangka persahabatan atau perkawanan yang erat juga telah tergalang hubungan dengan presiden Lula dari Brasilia (negeri yang besar dan penting di benua Amerika Latin), dengan presiden Nesto Kirchner dari Argentina, juga dengan Uruguay dan Equador. Dapat diduga bahwa hubungan antara Bolivia dan Cili, yang akan dipimpin oleh presiden perempuan (mantan Tapol) Michelle Bachelet, juga akan membaik. Kemenangan Evo Morales di Bolivia mungkin sekali akan mendorong terjadinya perubahan di Peru juga.

Ini berarti bahwa sejumlah negara-negara (paling sedikit 7 negara) yang penting-penting di benua Amerika Latin sedang bersama-sama (walaupun tidak serentak dan dengan cara yang berbeda-beda) bergerak ke arah yang tidak menguntungkan AS beserta sekutu-sekutunya.

Inilah barangkali gejala yang disebut oleh Fidel Castro “The map is changing”. Dapat dimengerti bahwa perubahan penting dengan skala yang begitu besar itu akan bisa menimbulkan dampak yang tidak kecil bagi negeri-negeri lainnya, baik yang di Amerika Latin atau di benua lainnya. Kalau proses perubahan ini berlangsung terus – dalam jangka dekat maupun jauh – maka perjuangan berbagai negeri di dunia untuk melawan kapitalisme neo-liberal dan globalisasi akan memasuki tahap baru. Peta pertarungan politik (dan ekonomi) di skala dunia akan menjadi makin jauh berbeda dari ketika masih berlangsung Perang Dingin.

Kemenangan besar yang diperoleh Movimiento Al Socialismo di Bolivia, dan terpilihnya tokoh sosialis Michelle Bachelet di Cili, dan sikap anti-AS Hugo Chavez di Venuzuela, berarti bahwa sekarang ini Republik sosialis Kuba (sekitar 13 juta penduduk) di bawah Fidel Castro tidak terisolasi lagi seperti di masa yang lalu. Seperti kita ketahui, imperialisme AS telah selama sekitar 45 tahun memboikot dan memblokir ekonomi Kuba, dalam usaha untuk menghancurkan kekuasaan pemerintahan revolusionernya Fidel Castro, tetapi tanpa hasil, sampai sekarang.

Perlawanan gigih Kuba melawan segala macam subversi dan sabotase AS selama puluhan tahun ini membikin revolusi Kuba menjadi legendaris, dan menimbulkan respek dan kekaguman banyak orang di Amerika Latin (dan di berbagai negeri lainnya di dunia). Ketokohan Che Guevara, kawan seperjuangan Fidel Castro dalam tahun-tahun awal revolusi Kuba, menjulang tinggi di skala internasional, dan menjadi simbul berbagai gerakan rakyat atau idola sebagian generasi muda.

Untuk menunjukkan simpatinya yang besar terhadap kemenangan Evo Morales, pemerintah Kuba telah mengirim pesawat terbang khusus ke Bolivia untuk menjemput Evo Morales yang berkunjung ke Havana, dan menyambutnya secara besar-besaran sebagai kepala negara sahabat, meskipun ia belum dilantik sebagai presiden terpilih. Sebaliknya, dalam berbagai kesempatan Evo Morales terang-terangan mengakui sebagai seorang pengagum Fidel Castro, dan dengan respek dan kemesraan memanggilnya sebagai “El commandante”.

“POROS KEBAIKAN” MELAWAN “POROS KEJAHATAN”

Kecuali dengan Fidel Castro di Kuba hubungan dan kerjasama yang erat juga telah terjalin antara Evo Morales dengan Hugo Chavez di Venezuela. Dalam siarannya tanggal 20 Januari 2006 BBC News menyebutkan bahwa hubungan antara Venezuela dan Bolivia dinamakan oleh Hugo Chavez sebagai “axis of good” (poros kebaikan), sedangkan “axis of evil” (poros kejahatan) adalah Washington dengan sekutu-sekutunya di seluruh dunia, yang mengancam, menyerang, dan membunuh (who threaten, who invade, who kill, who assasinate).

Dengan orientasi politik luarnegerinya yang tidak mau tergantung kepada AS saja, Eva Morales sebelum dilantik sebagai presiden, sudah mengadakan tour kilat internasional di negeri-negeri penting di 4 benua. Antara lain ia telah mengunjungi Spanyol, Prancis, Belgia, Belanda, Afrika Selatan, Tiongkok dan Brasilia, untuk bertemu dengan berbagai kepala negara dan tokoh-tokoh. Ia telah bertemu dengan presiden Prancis Jacques Chirac, pimpinan Uni Eropa Javier Solana, menteri luarnegeri Belanda Ben Bot, presiden Hu Jintao dari Tiongkok, dan presiden Lula dari Brasilia.

Pers internasional banyak memberitakan tentang kunjungan kilatnya ini, termasuk “keistimewaan” Evo Morales mengenai pakaiannya selama pertemuan dengan berbagai tokoh terkemuka di banyak negeri itu. Sebab, dalam kunjungannya ini ia selalu memakai pakaian yang sederhana, yaitu jaket kulit atau pakaian yang dibuat dengan alpaca (bahan pakaian tradisional yang banyak dibuat orang-orang Indian). Begitu sederhananya, sehingga soal pakaian Evo Morales disoroti oleh sebagian media massa berbagai negeri lebih banyak daripada politiknya. Ada yang menganggap bahwa pakaiannya yang sederhana ini (pakai dasi pun tidak!) kurang menghormati protokol.

SEANDAINYA BUNG KARNO MASIH HIDUP…….!

Dengan adanya perkembangan atau perubahan yang terjadi di berbagai negeri Amerika Latin, yang makin menunjukkan sikap anti-AS, dan perlawanan yang makin meningkat terhadap kapitalisme internasional, maka sekarang orang dapat melihat bahwa berbagai pandangan politik Presiden Sukarno yang anti-imperialis adalah pada pokoknya benar. Juga bahwa sosialisme yang dicoba olehnya untuk diperkenalkan kepada bangsa Indonesia (tetapi yang ditentang habis-habisan oleh para pendukung Orde Baru atau pendiri rejim militer Suharto) ternyata bukanlah momok atau barang yang dinajiskan di berbagai negeri Amerika Latin.

Agaknya, kita patut selalu ingat bahwa presiden Sukarno yang sejak muda sudah “gandrung” kepada sosialisme, telah digulingkan dari kekuasaan dan kemudian dijadikan tapol oleh pimpinan TNI-AD – waktu itu – sampai meninggalnya karena penderitaan dalam tahanan. Presiden Sukarno merupakan tokoh anti-imperialisme dan neo-kolonialisme yang jadi inceran CIA dan sekutu-sekutunya di dalam maupun luar negeri.

Seandainya Bung Karno masih hidup sekarang, maka tentulah ia akan bergembira sekali dan menyambut hangat perkembangan di Bolivia, di Venezuela, di Kuba, di Cili, di Argentina, dan mungkin di Peru nantinya. Karena, misi perjuangan yang diembannya adalah senyawa atau searah dengan apa yang diperjuangkan oleh rakyat dan pemerintahan di berbagai negeri Amerika Latin. Seperti yang kita ingat bersama, Bung Karno pernah menjadi tokoh gerakan rakyat Asia-Afrika dan Amerika Latin (antara lain: dengan Ganefo-nya dan gagasan Conefo- nya, “Games of the New Emerging Forces”dan “Conference of the New Emerging Forces’).

Sudah jelaslah bahwa sikap hangat semacam itu tidak bisa diharapkan dari tokoh-tokoh pemerintahan Indonesia yang sekarang, yang masih didominasi oleh para pendukung Orde Baru atau penyokong rejim militer Suharto, yang mempunyai pendangan yang sama sekali bertolak-belakang dengan arus perkembangan menuju ke kiri di Amerika Latin.

Sekarang makin kelihatan bahwa ketika situasi di banyak bagian dunia sudah dan sedang berubah terus, karena Perang Dingin sudah lewat, para pendukung Orde Baru di Indonesia masih tetap mempertahankan pandangan mereka yang anti-Sukarno, anti-sosialisme atau anti-komunis. Menyedihkan !!!

Paris, 22 Januari 2006

One thought on “UNTUK SOSIALISME ABAD KE-21

    afif said:
    pmpWed, 06 Aug 2008 21:34:25 +000034Wednesday 29, 2008 at 9:59 p08

    ded, lo ngutip tulisan ini dari Rumahkiri.net ya? lo ngutip tapi ga’ nyantumin sumber aslinya, plagiat tu! kayaknya di FMN g diajarin deh, jiplak tulisan orang tanpa permisi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s