Kontrak Dagang Kerajaan Melayu dengan VOC 1643-1763

Posted on Updated on

Oleh : Marahalim Siagian (Mahasiswa Pasca Sarjana UGM)

Kerajaan Melayu di Jambi pada abad ke-17 telah menjadi bagian dari perdagangan internasional yang intensif, khususnya dalam komoditi rempah-rempah seperti lada yang sangat tinggi nilainya pada jaman itu. Perserikatan Perusahaan Hindia Timur atau Nederlandsche Oostindiesche Compagnie (VOC) setelah mantap memonopoli perdagangan rempah-rempah di Batavia kemudian memperluas hubungan dagang nya dengan kerajaan-kerajaan Islam di Sumatera, antara lain dengan Kesultanan Jambi. Sumber arsip(1) bertahun 1643-1763 yang dirujuk, memberikan informasi yang bernilai sejarah untuk memahami kondisi ekonomi politik kerajaan di Jambi masa lampau, salah satunya mengenai siasat diplomasi dagang VOC yang menggunakan kekuatan militer dalam diplomasi dagang. Hal itu dapat dilakukan VOC dengan menawarkan perlindungan keamanan bagi salah satu kerajaan yang bermusuhan. Bisa jadi permusuhan antara kerajaan-kerajaan ini hanyalah kecemasan belaka yang kemudian dimanfaatkan sebagai imbalan monopoli perdagangan rempah-rempah, bahan tekstil sampai opium (candu). Logo Kamar Dagang VOC Sumber: Wikipedia Indonesia Kontrak 6 Juli 1643 antara Pangeran Anom dengan VOC yang diwakili oleh Pieter Soury mengenai lada menyebutkan bahwa, budak-budak kompeni boleh tinggal dan berdangang di Jambi, demikian pula rakyat Jambi boleh berdagang dan tinggal di Batavia. Kontrak 12 Juli 1681 antara Sultan Jambi dengan VOC yang diwakili oleh Adrian Wiland menyebutkan, kompeni memberikan perlindungan kepada kesultanan Jambi jika mendapat ancaman dari Palembang. Sebagai imbalannya, harga lada yang dijual kepada kompeni diturunkan sama dengan harga lada yang dibeli kompeni dari Palembang. Disamping itu, kompeni mendapatkan monopoli impor kain linen. Kontrak 11 Agustus 1683 antara Sultan Ingalaga dengan VOC menyebutkan kompeni (dari asal kata ”compagnie”) memperoleh monopoli pembelian lada, impor kain dan opium (candu) di Jambi. Sultan Jambi dan para penggantinya, termasuk para pembesar kerajaan lainnya harus melarang orang asing lainnya membawa dan menjual kain di wilayah kerajaan Jambi, dan jika hal itu terjadi maka kapal dan barang bawaannya dirampas, sebahagian diserahkan kepada sultan dan sebahagian diserahkan kepada VOC. Kontrak 21 Agustus 1681 antara Sultan Anom dengan VOC berisi keterangan tentang hak kompeni untuk memperoleh monopoli pembelian lada di Jambi. Setiap akhir tahun sultan Jambi diharuskan memasok 1000 pikul lada dengan harga setiap pikul 4-5 real. Jika ada orang Jambi menjual lada kepada selain VOC, baik itu pejabat, pembesar kerajaan atau rakyat biasa, bila ketahuan ladanya dirampas, separo diserahkan kepada sultan dan separohnya lagi kepada kompeni. Kontrak 20 Agustus 1683 antara sultan Jambi dengan VOC tentang pembaharuan kontrak 6 Juli 1643 antara Pangeran Dipati Anom dengan komisaris Pieter Soury mengenai perdagangan lada. Kontrak 21 Oktober 1721 antara Sultan Astra Ingalaga dengan VOC (isinya tidak dapat di baca lagi karena arsipnya rusak). Akte perjanjian 12 Juni 1756 antara Sultan Ingalala dengan VOC berisi kebebasan kepada kompeni berdagang di Jambi. Sultan Jambi juga harus menunjuk saudagar yang membeli barang-barang kompeni. Kontrak 16 Oktober 1763 berisi upaya memperkuat perjanjian-perjanjian yang dibuat sebelumnya yakni, (a). Jambi di bawah perlindungan kompeni (b). Orang-orang Cina dan pedagang-pedagang yang diam dan menetap di Muara Jambi membantu pekerjaan kompeni (c). Kebun lada yang rusak agar direhabilitir dan ditanami kembali dan tidak boleh diberikan selain kepada kompeni. Isi kontrak diatas menunjukkan bahwa kekuatan militer memberikan kekuasaan besar kepada VOC yang notabene hanya sebuah perusahaan untuk mengendalikan keputusan-keputusan kerajaan. Jika kita refleksikan peristiwa sejarah yang telah terjadi 400 tahun yang lalu itu tampaknya masih punya modus yang sama dengan posisi kita saat ini dengan bangasa asing. Bedanya, kerajaan-kerajaan telah dilebur menjadi Republik Indonesia dan VOC telah berganti menjadi perusahaan multinasional milik asing seperti, Freeport, Newmount, Caltex, Honda, Nokia, Danone, Microsof, dll, VOC-VOC baru ini tidak saja sangat berpengaruh pada Negara Indonesia tetapi mengendalikan trend dan kebutuhan kita (nyaris) dari a-z.

[1] Uka Tjandrasasmita (1995) Data Arkeologis dan Historis Masa Islam di Provinsi Jambi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s