Rasio dan Kepercayaan

Posted on Updated on

Tuhan datanglah kedalam pikiran Q*

Manusia seluruhnya memiliki beberapa jenis kepercayaan, bagaimana mereka sampai kepada kepercayaan-kepercayaan itu sangat bervariasi, dari argumen yang dinalar sampai kepada keimanan buta. Sebagian kepercayaan berdasarkan pengalaman personal, pendidikan, dan indoktrinasi. Banyak kepercayaan yang tak diragukan lagi merupakan bawaan, kita dilahirkan bersama kepercayaan itu sebagai akibat dari fakta-fakta evolusioner[1]. Beberapa kepercayaan yang kita rasakan dapat kita temukan landasan pembenarannya. Dalam Agama Islam kita menemukan adanya Al-Qur’an dan Hadis Nabi sebagai pedoman hidup, Kristiani ada Injil dan sebagainya.

Rasionalitas ini dari perhujudan kehendak manusia untuk mencari Tuhannya, para filosofi Yunani kuno mengarahkan pada issu-issu eksistensi yang betul-betul mendalam semacam asal-usul dan makna alam semesta, ada daya tarik yang kuat kepada hal-hal yang tidak masuk akal (irasionalitas) lebih kepada realita mutlak[2]. Orang –orang Yunani kuno menganut paham politheisme, yaitu paham banyak Tuhan, dewa kecantikan yakni Venus, mars dewa peperangan. Begitu juga kondisi Masyarakat Makkah sebelum datangnya Muhammad SAW, mereka menyembah barhala.

Menurut para sufi pikiran (sebuah jalan rasio dan kepercayaan) bukan otak, melainkan kecakapan yang tidak terlihat dan kegiatan yang tidak dapat dirasakan, dimana otak sebagai kendaraan / alatnya. Manusia membatasi hal-hal yang tidak terbatas dan melebihi ukuran kemampuannya, oleh Karena itu dia telah mengambarkan Tuhan pada bentuk manusia atau pengkeramatan kepada binatang-binatang, sorang yang mempunyai pikiran yang luas mempunyai pandangan yang lebih luas. Sejak kecil hingga dewasa telah biasa menggukur dan memahami sesuatu dari cara pemahamannya untuk sebuah apresiasi[3], kemudian mereka bisa menilai dirinya sendiri.

Kitab Weda yang mengwakili filsafat Hindu Kuno dengan menggunakan bahasa Sansekerta (Ibu dari semua Bahasa) menerapkan kata Manu atau Manushi untuk kata manusia. Mana berarti pikiran, kata Man dalam bahasa Inggris mempunyai asal kata yang sama. Hal ini bermaksud bahwa asal mulanya mahluk hidup adalah pikirannya.

Dalam tulisan Hindu disebutkan keberasilan dan kegagalan mu tergantung kepada pikiran mu. Jika pikiran merasa gagal maka keberhasilan tidak ada dihadapan mu, namun sebaliknya maka keberhasilan akan datang. Satu sisi ada benarnya, karena Tuhan dapat dibuktikan oleh rasionalitas dari Manusia itu sendiri, pola pikir yang maju akan membawa sebuah kebenaran sejati. Dalam Bahasa Arab tertulis “jika kamu ingin mengenal Tuhan, anda harus mengenal dirimu sendiri”. Ketika Jalaluddin Rahmat mengatakan pikiran bisa menciptakan kenyataan, ini sudah lama orang mengatakan bahwa pikiran bisa menentukan prilaku kita. “yau don’t think what you are ; you are what you think” anda tidak bisa berpikir siapa anda, tetapi anda bergantung pada apa yang anda pikirkan tetang diri anda. If you think you are foolish; you wiil be foolish. Jika anda berpikir anda bodoh, anda pasti bodoh. Jika anda berpikir anda tidak disukai orang, anda pasti dibenci orang. Para Psikologi mengatakan bahwa konsep diri akan mempengaruhi siapa diri kita[4].

Menurut buku Beyond Psychology, yang mencipkan alam semesta adalah Tuhan, dan dia menciptakan berbagai pristiwa di alam semesta ini melalui kita. God as me; god as you; god as us, kerena itu semua adalah tajalliyat Allah SWT dan Dia memenifestasikan Diri-Nya dalam diri kita, kita ungkapan Tuhan di alam semesta[5]. Begitu juga dengan konsep ketuhanan yang kita pikirkan, dan semua orang begitu tetang Tuhannya, akan tetapi hal ini bisa dibuktikan dengan rasionaliats masing-masing dan pemikiran kita tetang Tuhan itu sendiri. Sejalan dengan Al.Qur’an, para filosof Islam juga mengakui bahwa manusia itu tersusun dari elemen materi dan immateri. Kedua elemen ini merupakan hasil emanasi Tuhan. Al-Farabi, seorang filosof Islam yang terbesar (870-950) dan mendapat julukan al-Mualim al-Tsani, menjelaskan bahwa manusia adalah hasil dari proses emansi Tuhan, ketika proses emanasi sudah mencapai akal kesembilan ini berpikir tetang akal diatasnya[6].

* Colotehan Dedi Syaputra


[1] Paul Davies. “The Mind of God dasar-dasar ilmiah dalam dunia rasional” Pustakan Pelaja, Yogyakarta. Hal. 1

[2] ibid

[3] Hazrat Inayat Khan. “Taman Mawar dari Timur” Putra Langit, Yogyakarta. Hal. 103

[4] Jalaluddin Rahmat, “Merahih Cinta Ilahi Pencerahan Sufistik”, PT. Remaja Posdakarya, Bandung. Hal.87

[5] ibid

[6] Ibid, Hal. 17

2 thoughts on “Rasio dan Kepercayaan

    aan ganteng said:
    pmpTue, 05 Aug 2008 17:49:45 +000049Tuesday 29, 2008 at 9:59 p08

    lho lagi online po cuk???qu ma wawan gi dimenara,,,,kalo mo ngomong lwt buku tamu qu ja

    afif said:
    pmpWed, 06 Aug 2008 21:26:23 +000026Wednesday 29, 2008 at 9:59 p08

    Broth, gw ga’ nyari Tuhan tapi Tuhan yang nyariin Gw.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s