EKONOMI NEO-LIBERALISME MUSUH ISLAM

Posted on Updated on

Konsep ekonomi liberal sudah dipraktek oleh orang- orang Qurasy di masa Muhammad lahir di muka bumi ini. Konsep inilah yang di tetang oleh Muhammad, karena orentasi ekonomi liberal lebih mengarahkan kepada monopoli induvidualis. Dalam sejarah Islam Muhammad mengukirkan etos perjuangan yang bertolah kepada sebuah kepercayaan yang diturunkan atas dasar sebuah aksi politik yang berbasis material yang berimabas kepada ketimpang social di masa itu.
Secara ideologis Islam dan Kapitalisme bertolak belakang. Islam menjadikan akidah Islam berikut syariatnya sebagai landasan sistem ekonominya.Sebaliknya, dasar sistem ekonomi Kapitalisme adalah sekularisme, yang menghalangi agama terlibat dalam ekonomi. Akibatnya, kebijakan ekonomi kapitalis lebih didasarkan pada hawa nafsu manusia yang rakus.
Dengan demikian ekonomi neo liberalisme menbuat karekteristik manusia yang watak monopoli, sehingga menguntungkan individu dan mengorbankan hak-hak individu lainnya. Perilaku mereka yang ditetapkan dalam Hukum Allah (Syari’ah) harus diawasi oleh masyarakat secar keseluruhan, berdasarkan aturan Islam secara politik, ini juga tidak ketinggalan dari partai-partai politik yang berasaskan Islam seharusnya mampu untuk melakukan sebuah komunikasi politik dan sosialisasi tetang bagaimana kedepan ketika kita masih menganut paham-paham ekonomi liberal kepada pendukungnya.

Kecendrungan
Demensi ketidakcocokan Islam terhadap ekonomi liberal memiliki alasan yang kuat, yaitu hak-hak monopoli melanggar aturan dari hak-hak induvidu yang memiliki asas kesamaan hak atas apa yang diberikan Tuhan kepada manusia. Oleh karena itu ekonomi liberal akan mengalihkan perhatian manusia untuk tidak peduli terhadap manusia lain yang menghasilkan ekploitasi antar manusia. Menurut George Monbiat seorang ahli lingkungan dalam pernyataannya, kita bukan masalah ketidakpedulian, tetapi ada pegeseran watak manusia di dalam kehidupan kita bawah ketimpangan social yang menyebabkan rasa humanizing hilang membuat miskin semakin miskin sementara menjadi luar biasa kaya. Pegeseran (shifting) ini nampat dari upah buruh yang sangat murah, dan buruh menjadi the sistem of objects dibandingkan biaya iklan dalam mempormosikan produk-produk tersebut, bisa kita katakan bahwa antara biaya upah buruh dengan aktor iklan tersebuat berlipat-lipat diatas upah buruh.

Islam Indonesia—Butuh perubahan
Perubahan pada dasarnya tidak hanya umat Islam Indonesia saja, tetapi lapisan masyarakat lintas agama, ras, dan suku ingin sebuah perubahan haluan ekonomi kita. Kalau tidak, ini yang dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer dalam komentarnya atas film THE NEW RULLERS OF THE WORLD: ratusan tahun lamanya di kita diekploitasi oleh Negara-negara Utara, tidak hanya Indonesia, semua berkulit berwarna. Sehingga bara menjadi kuat dan makmur menguasai keuangan dan perdagangan samapi sekarang. Sekarang kita didekte oleh mereka (IMF, Bank Dunia, Consultative Group on Indonesia), Negara yang kaya di ubah menjadi Negara pengemis, karena tidak ada karekter pada elit.

Dalam kampaye Capres dan Cawapres ini seharusnya membanggun bangsa yang mandiri dan berpijak diatas kaki kita sendiri tanpa lagi minta bantuaa dari luar bangsa kita. Hal ini sudah terbukti bahwa perekonomian kita sudah dirampas dari masa kemasa. Tidak hanya itu, dari sistem yang terbangun membuat karekteristik masyarakat Indonesia adalah karekter jajahan, tidak ada yang mencouter balikan dengan dasar-dasar falsafah kita sebagai bangsa yang mendiri, berdiri dengan kaki sendiri, dan mampu berekspresi berlatarbalakang budaya sendiri.

Bicara Jati Diri Bangsa?
Masa Jahiliah, rasa bangga terhadap diri sendiri dan keluarga adalah sebuah keniscayaan, akhirnya rasa tidah hormat terhadap hak—perbudakan adalah hasil dari egoisme dan terlalu berlebihan memuja rasa kebangga. Pada masanya rasa menghormati dan dihargai nampak ketika sebuah bangsa dan keluarga ataupun diri mereka sendiri sudah mumpun dalam perekonomian. Kontek Indonesia, bagaimana bicara jati diri, sedangkan pembelaan terhadap aset bangsa dan perekonomia dasar (need basic) masyarakat kita belum terpenuhi. Masa Jahiliah sudah mempunya paradig bahwa bangsa (yang dilambangkan pada keluarga) pantas untuk dihargai adalah ketika mempunyai bargaining position perekonomian baik dan tercukupnya kebuatuhan hidup. Artinya adayang salah dalam sistem pemerintahan kita dalam perspektif perekonomian. Bicara penegakan hokum, pendidikan, problematika masyarakat, Ambalat, TKI, dll ataupun jati diri bangsa, kalau belom mengerti antologi dari persoalan yang sebenarnya. Jangan sampai bicara jati diri bangsa sebagai euphoria pemahaman menjelang PEMILU Capres dan Cawapres semata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s