Komentar wahyu dan akal dalam karangan Noel J. Coulson

Posted on Updated on

Perkembangan hukum idealnya sejalan dengan perkembangan dialektika dari perkembangan pemikiran masyarakatnya, baik itu dari segi sosiologis, sosial, ekonomi, dan politik. Artinya penelitian hukum secara empiris atau sosiologis merupakan refleksi tata nilai yang di yakini masyarakat sebagai pranan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara; muatan hukum seharusnya mampu mengakomodir dan menangkap aspirasi masyarakat yang tumbuh berkembang yang bersifat kekinian.

Islam mempunyai konsep yang logis dan bijaksan persoalan penerapan budaya-budaya sepeninggal pra masuk hukum Islam, meskipun tidak bisa dinafikan berbenturan dengan konsep teologis, tetapi hal ini sudah dipraktekan oleh Nabi Muhammad SAW, bahwa tradisi-tradisi sebuah keharusan untuk dijaga, artinya peran yang paling mendasar dari sebuah hukum Islam adalah ketika tradisi-tradisi masih diakui dan dijaga oleh penganutnya.

Teori ijtihad dalam hukum Islam menimbulkan dan merupakan permulaan epistimologi hukum Islam karena menyakut peranan wahyu dan akal, sekalipun peran wahyu dan akal semula merupakan pokok bahasan dalam ilmu kalam (teologi), sedangkan fiqih merupakan cabang (furu’), ini berarti bahwa ilmu kalam menjadi dasar landasan fiqih. Dengan kata lain, pandangan-pandangan ahli hukum Islam akan sangat dipengaruhi oleh teologi yang dianutnya, baik teologi tradisonal, rasional, atau moderat.

Seorang tokoh moderat Islam Muhammad Iqbal, bahwa ijtihad (rasionalisasi) merupakan the principle of movement dalam gerak kemajuan umat Islam. Artinya ijtihad merupakan dinamika ajaran Islam, termasuk hukum Islam.

Wahyu tidak berperan secara maksimal, kalau hukum tidak diinterprestasikan kedalam kebutuhan masyarakat, kebutuhan ini disesuai dengan kontek sosial yang ada. Hal ini pranan akal yang mampu untuk melakukan secara sistematis, objektif, dan rasional yang dapat diterima oleh seluruh lapisan kalangan.

Pranan akal, ini yang dikatakan oleh Noel J Coulson, ada sebuah metode yang dibangun melalui pola pikir yang objektif, yaitu salah satunya dengan proses qiyas (anologi); harus menemukan tempat titik tolak sebuah perhujudan kehendak Tuhan yang telah diterima akal manusia, wahyu terbatas dalam pelaksanaan dan pengembangan hukum Tuhan dan tidak dapat dijalan sendiri terlepas dari wahyu (Konflik,… hal 8).

Menurut saya, al-Qur’an sebagai hukum dasar (Basic Islamic Law), sedangkan implementasinya terletak sejauh mana para ahli hukum Islam (fuqoha’) dalam mengeluarkan hukum (istimbat) dan penerapannya yang disesuaikan dengan scop yang ada dilingkungannya.

Hukum Islam (al-Qur’an) tidak berfungsi secara maksimal dikala tidak ada ilmu (Usul Fiqih) yang mengeneralkan bahwa hukum sesuai dengan kontek yang ada (fuqoha). Hukum bukan sekedar norma statis yang mengutamakan kepastian dan ketertiban, melainkan juga norma-norma yang harus mendinamisasikan pemikiran dan rekayasa perilaku masyarakatdalam mencapai cita-citanya.

Dedi Syaputra, S.H.I.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s