PERUBAHAN IAIN KE UIN “MEMBANGUN SEBUAH PARADIGMA BARU”

Posted on Updated on

Oleh Dedi Syaputra
A. Pendahuluan
Perkembangan modern Islam timbul sebagia akibat dari perubahan-perubahan besar dalam demensi kehidupan manusia yang dibawa oleh kemajuan dalam ilmu pengetahuan. Masalah-masalah yang ditimbulkan dalam bidang keagamaan, termasuk Islam lebih pelik yang terdapat dibidang-bidang kehidupan. Salah satu sebabnya adalah karena dalam agama terdapat ajaran-ajaran yang absolut, mutlak benar, kekal, tidak dapat dirobah, dan mengkontekkan halal dan haram pada dataran yang sangat mudah. Dari persoalan itu, agama seolah jadi Tuhan nomor dua di dunia, tidak bisa di gugat, dan menimbulkan dogmatis dalam agama, yang melahirkan sikap tertutup dan tak bisa menerima pendapat yang bertentangan dengan dogma-dogma yang dianutnya. Sikap sepertinya membuat orang berpegang teguh pada pendapat-pendapat lama dan tidak bisa menerima perubahan. Sikap dogmatisme ini membuat orang bersikap tradisonal, emosional dan dan tidak rasional. Sedangkan sifat dari ilmu pengetahuan dn teknologi adalah perkembangan, selalu mengalami perubahan dan membawa perubahan dalam kehidupan. Agama yang bersifat tradisonal, cenderung mempertahankan yang lama (status quo) dan tidak sangup mengikuti perubahan-perubahan yang sangat cepat yang di bawa oleh hasil-hasil dari ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Ketidakmampuan ini melahirkan sikap yang bertentang. Pertentangan ini bukanlah yang di bentukan oleh agama dengan ilmu pengetahuan serta teknologi modern, melainkan aktor-aktor agama dan aktor-aktor ilmu pengetahuan. Perdebatan itu tampak dalam pendidikan pesantren tradisonal yang kaku dan sufistik. Ketika kaum modern Islam yang ingin membuka kembali pintu ijtihad sebagai kembangkitan Islam (resurgency of Islam) dianggap bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang diajarkan selama ini. Mereka lebih mengidolakan al-Ghazali ketimbang pemikiran Ibn Taimiyah yang lebih modern. Tulisan ini memcoba mengambarkan ada keharusan bagi kita untuk berobah dan menepis wacana sekulerisasi dalam pendidikan Agama Islam (IAIN ke UIN) serta membangkitkan kembali gairah kita dalam memecahkan belbagai macam persoalan. Saya tidak menafikan keharusan kita mempelajari agama, tetapi agama tidak bisa kita jaga dengan efektif dan produktif jika kita buta “trend modern” teknologi.
B. Sebuah Alasan dan Harapan
Dalam perkembangan sejarah peradaban, Islam di hadapkan oleh gencar dan brutal Kolonial kapitaslime dalam perdagangan, pada abad 18, masyarakat Muslim tradisional tidak mampu bertahan. Hampir semua wilayah Islam, Afrika Barat sampai Asia Tenggara termasuk Indonesia, dengan cepat di duduki oleh kolonial. Akan tetapi bukan saja dalam meliter, Umat muslim kalah terhadap sain yang menguasai peradaban. Ini yang membuat umat muslim kaget, bingung, dan kehilangan kepercayaan diri. Kolonial pada abad itu, sudah mempunyai peratan yang cangih untuk menghancurkan lawannya, mereka sudah memiliki telegraf, kapal uap, mesin menghasilakan barang dll. Kekuatan ini juga yang menghancurkan dua super power Islam. Sejarah politik kekuasaan, Islam kalah dan mengorbankan superpower Islam di tahluk oleh kolonial, yaitu Imperium Munghal di India ketangan Inggris (1802), dan Imperium Turki Usmani (Ottoman Empire) pada PD I, dengan demikian kata “Islam” menjadi manuver dari dominasi Eropa untuk tidak mendirikan negara-negara yang berasas Islam. Akan tetapi Masyarakat Islam tidak pernah mengevaluasi, apa penyebab kita di tahlukkan oleh Barat? Kenapa Barat mampu menguasai dunia? Apa alasannya. Ini yang perlu kita evaluasi sampai pada dataran teologis, tradisi, dan pendidikan pengetahuan. Dari sini kita dapat mengambil sebuah gambaran, ada sebuah kesadaran yang mencul dari sebagian pemikiran Muslim untuk membangun kembali bagaimana Islam seharusnya. Ini kemudian muncul gagasan pembaharuan di dalam Islam. Salah satu gagasan yang kencang di lontarkan oleh Fazlur Rahman. tawaran yang di tulis oleh Fazlur Rahman, ada tiga tema; Pertama Tajdid (pembaharuan), Kedua, Ijtihad (kebebasan berpikir), berperan sebagai unsur kunci dalam memikirkan kembali Islam (rethinking) Islam. Di sini Fazlur Rahman melihat tawaran intelektual modern dengan tawaran yang di keluarkan oleh ulama’ sangat jauh berbeda dari harapan yang di inginkan oleh masyarakat muslim, akibatnya umat muslim jauh ketinggalan oleh umat-umat yang lain. Perhatian utama Fazlur Rahman adalah memikirkan kembali sarana-sarana pendidikan, salah satu yang jadi permasalahan adalah sistem pendidikan yang di terapkan oleh ulama’-ulama tradiosnal- konservatif, akan tetapi, ini tidak lepas dari penolakan dari kalang Islam sendiri, kerena itu mengorbankan masyarakat muslim yang tertinggal dari ilmu pengetahuan yang mengembangkan ekonomi, politik dan ilmu pengetahuan. Tradisi pemimpin agama kita khususnya di dunia sunni, melahirkan pendidikan yang tidak dapat memenuhi peran-peran sosial yang relevan; dan tidak memberikan arahan pada pendidikan yang modern. Ini yang menjadi keluhan bagi Fazlur Rahman, ulama secara umum membuang aspek penting dalam warisan keilmuan, terutama pemikiran kritis dan inovasi. Beliau mengutarakan; warisan pada abad ke 20, hanyalah tertinggal tradisi yang tidak memacukan kita, malah memecahkan cerai- berai yang menghasilakan kebekuan.
C. Upaya Integrasikan Ilmu agama dan Sosial “Sains”
Perubahan IAIN ke UIN menandakan sebuah proses kesadaran yang lebih maju. Selama ini IAIN di anggap kampus yang memproduksi guru-guru agama baru, penganti imam masjid, takmir, dan pengisi acara pengajian. Stigma ini tersepsi ketika alumni IAIN tidak berkembang karena ijazah yang di hasilkan adalah tidak memiliki standar yang diminta oleh pasar. Kita tidak bisa pungkiri bahwa, keinginan di setiap kelulusan adalah orientasi mereka bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Pembentukan UIN merupakan bagian dari usaha mengintegrasikan beragam keilmuan untuk mengeliminasi dikotomi antara ilmu umum dan ilmu agama. Hal ini dianggap perlu dalam usaha untuk memberikan dasar etika Islam demi pengembangan ilmu dan teknologi dan pada saat yang bersamaan juga berusaha mengimplementasikan ajaran-ajaran Islam secara profesional di dalam kehidupan sosial. Perubahan IAIN menjadi UIN merupakan hasil dan usaha para sarjana Muslim yang lama dan melelahkan dimulai dari adanya Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) dari tahun 1957-1960. Kemudian pada tahun 1960-1963 berubah menjadi salah satu bagian dari fakultas di IAIN Yogyakarta. Akhirnya IAIN Syarif Hidayatullah (yang dimulai tahun 1963) berubah menjadi UIN dengan adanya Keppres No. 31 tahun 2002. Perkembangan dunia pendidikan tinggi Islam dengan perubahan beberapa IAIN menjadi UIN, juga dibukanya prodi-prodi umum di IAIN, memunculkan harapan baru bagi munculnya alternatif paradigmatis pengembangan ilmu sosial di Indonesia. Wacana besar integrasi agama dan ilmu pengetahuan segera muncul sebagai tema sentral pengembangan ilmu sosial di IAIN/UIN. Ilmu sosial yang selama ini terlanjur dikembangkan dengan asumsi kuat terpisahnya wilayah agama dan ilmu (diferensiasi), tentu tidak dapat menjawab kebutuhan kita atas paradigma keilmuan yang integratif. Di sisi lain, gagasan semacam paradigma islamisasi ilmu sosial juga masih menyisakan banyak persoalan pelik yang justru dapat menghambat perkembangan ilmu sosial. Karena itu kiranya dibutuhkan paradigma lain yang lebih menjanjikan untuk mengatasi persoalan ini.
Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, termasuk ilmu sosial yang begitu pesat, mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap kesadaran manusia tetang fenomena agama. Agama untuk era sekarang tidak lagi dapat didekati dan dipahami hanya lewat pendekatan teologis-normatif semata-mata. Tetapi lebih dari itu. Pengeseran paradigma pemahaman agama mengarah pada keterbukaan dan transparan dalam pergaulan di dunia. Ada ketakutan bagi sebagian individu, kelompok, perubahan UIN sebuah ajang sekularisme terhadap fakultas agama, mungkin mereka punya alasan. Tapi bagi saya, tidaklah kuat, karena perubahan ini sebuah delema atas agama dalam menghadapi persoalan sosial. Kalau kita boleh mengutip penjelasan yang diutarnkan oleh al-Afghani, perubahan sebuah keharusan untuk keterbukaan, untuk menerima apa yang di suguhkan oleh modernitas Barat. Tujuan utama bukan meniru, tetapi menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi Barat serta mencapai hukum perbedaan (diversity law), tetapi tetap pada lingkaran “kembali pada al-Qur’an dan Sunnah”. Masyarakat modern, paradigma ilmu pengetahuan yang objektif di bangun oleh motedelogi berdasarkan paradigma empiris dan nyata. Sedangkan agama sebagai hal-hal subjektif yang mengungkapkan perasaan dan emosional dan penilaian moral. Keduanya memiliki peran masing-masing, tetapi yang paling penting adalah keduanya tidak boleh dicampurkan. Kenyataan yang objektif dilihat dari ilmu pengetahuan, sedangkan tasawuf, emosional , dan nilai moral menjadi bidang budaya dan agama. Kedunya agar memiliki arti penting dalam kehidupan adalah dengan mendialokannya, agar terdapat keserasian dalam mengelola kosmos dan kosmis ini. Dalam perjalanannya, memang masih ada pro dan kontra dalam perubahan ini. Pertanyaan yang mucul adalah perlukah Islamisasi ilmu? Ini pertanyaan yang diajukan oleh tokoh pemikiran Islam Indonesia yaitu Mulyadi Kartanegara , menurutnya, ketika bicara ada sebuah urgent untuk menjawab itu, “kenapa tidak”, melahirkan sebuah pertanyaan apakah ia memang perlu?. ada beberapa alasan untuk “jika perlu”. Tetapi tetap kita perhatikan, menganalisa pembatasan ruang lingkup. Ilmuan-Ilmuan Barat modern hanya pada objek-objek indrawi, pada awalnya pembagian kapling antara akal dan agama. Ini yang akan melahirkan serta mencerminkan materialisme, sekularasisme, dan positivisme, yakni pandangan-pandang filosofis yang biasanya berakhir dengan penolakan terhadap realitas metafisik dan alam ghoib. Akan tetapi kita juga tidak bisa menafikan bahwa realitas berbicara lain, bahwa umat juga tidak ingin lepas dari berkeinginan untuk mendalamkan sain dan teknologi sebuah kebutuhan dan tuntutan zaman.
Ini konsep yang di tawarkan oleh Yudian Wahyudi “Islamic Positivist transedentalisme”. Positivis adalah bicara Islam kekinian, sedangkan transeden adalah Islam punya orentasi untuk hari esok, di mana hari diluar jangkauan manusia (akhirat). Ini salah satu alasan bahwa, Islam tidak ada keingingan untuk memisahkan antara kapling akal dan agama, karena dua-dua sangat dibutuh satu dengan yang lainnya, ini yang melahirkan otentiksitas keilmuan, juga membedakan antara keilmuan Barat dengan keilmuan keislaman. Pemikiran Islam tidak ingin seperti Darwin yang mengantikan peran Tuhan sebagai pencipta dan pemelihara alam, dengan hukum seleksi alamiah dalam “teori evolusi-nya”. Dengan demikian, UIN sebagai lambang perubahan dalam sejarah yang sangat di pengaruhi oleh budaya, agama, nilai dan struktur sosial (Historis), untuk menjadikan ilmu agama sebagai media kritis untuk menpertanyakan hakikat “agama” dalam menjawab tantangan zaman. Untuk itu kedunya tidak bisa di pisahkan agar menjadi agama yang objektif dan terpandang. Menurut Amin Abdullah, Islam normatif dan Islam Historis tidak bisa di pisahkan, tetapi bisa di bedakan, keduanya merupakan hasil dari konteks, pola berpikir dan asumsi sejarah yang di bentuk oleh manusia pada jaman tertentu, kita sebagai manusia harus memformulasikan secara baru agar membangun sebuah paradigma baru untuk lebih maju.
D. Penutup
Di katakan dari awal, ada sebuah kesadaran dari sebagian Muslim untuk memajukan sarana pendidikan, ini tidak semerta-merta datang begitu saja, tetapi lebih dari kesadaran yang dibentuk oleh pengamatan sehari-hari dari perkembangan saran pendidikan hari ini, bukan berarti “mengsekularisarikan”, tetapi sebuah pegeseran sejarah serta kebutuhan tuntutan zaman. Gambaran tadi dapat kita simpulkan, bahwa perubahan IAIN ke UIN bukan sebuah ajangan sekulerirasi dalam Islam, tetapi adalah sebuah urgensi dan evaluasi atas kekalahan kita terhadap Barat. Urgensinya, ketika kita bicara Islam yang memiliki berbagai aspek “katanya”. Kenapa Barat maju, ini seharunya pertanyaan yang harus dijawab oleh orang-orang mengatakan perubahan ini sebuah ajang sekulerisasi.
DAFTAR PUSTAKA
Nasr Hamid Abu Zaid, Kritik Wacana Agama (Yogyakarta: Lkis, 2003). Amin Abdullah, Studi Agama; Normativitas atau Historisitas (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, cet. IV, 2004). Mulyadhi Kartanegara, Mengislamkan Nalar; Sebuah Respons Terhadap Modernitas (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2007). Harun Nasution dan Azyumardi Azra (Ed), Perkembangan Modern dalam Islam (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1985). Marin Van Bruinessen, Kitab Kuning; Pesentren dan Tarekat (Bandung: Mizan, 1995) Pervez Hoodbhoy Ikhtiar menegakan Rasionalitas antara Sains dan Ortodoksi Islam (Bandung:Mizan, 1996). Yudian Wahyudi, Maqoshid Syari’ah dalam Pergumulan Politik Berfilsafat Hukum Islam dari Harvard ke Sunan Kalijaga (Yogyakarta: Pesantren Nawesea Press, 2007). Fazlur Rahman, Kebangkitan dan Pembaharuan di dalam Islam (Bandung:Penerbit PUSTAKA, 2001). Yudian Wahyudi, Dinamika Politik; Kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah di Mesir, Maroko dan Indonesia (Yogyakarta: Pesantren Nawesea Press, 2010). M. Fahmi, Islam Transendenta; Menyelusuri Jejak-Jejak Pemikiran Kuntowijoyo (Yogyakarta: Pilar Media, 2005). Endang Saifuddin Anshari, Ilmu, Filsafat dan Agama (Surabaya: Bina Ilmu,1990). Amin Abdullah, Pengembangan Kajian Ke-Islaman; Metode dan Pengdekatan Program Pascasarjana UIN/IAIN/STAI (Makalah di sampaikan IAIN Imam Bonjol Padang, 26-28 Desember 2008).

8 thoughts on “PERUBAHAN IAIN KE UIN “MEMBANGUN SEBUAH PARADIGMA BARU”

    Tweets that mention PERUBAHAN IAIN KE UIN “MEMBANGUN SEBUAH PARADIGMA BARU” « Dedi Syaputra -- Topsy.com said:
    ampThu, 10 Feb 2011 06:01:47 +000001Thursday 29, 2008 at 9:59 p02

    […] This post was mentioned on Twitter by dedi syaputra and dedi syaputra, dedi syaputra. dedi syaputra said: baca mengikis radikalismeikng RT@https://dedisyaputra.wordpress.com/2011/02/10/perubahan-iain-ke-uin-membangun-sebuah-paradigma-baru/ […]

    Azhari said:
    ampMon, 25 Apr 2011 11:15:55 +000015Monday 29, 2008 at 9:59 p04

    Ded, buat saya Barat maju justeru karena mereka berhasil “mengantongi” agamanya. Lagipula apa yang dilakukan di UIN (khususnya terkait konversi) itu, belum membuktikan apa-apa.Tak salah juga sih, kita menaruh prasangka baik atas gagasan besar yang dibawa Pak Amin.Jadi kita nantikan saja.

    Dedi Syaputra responded:
    pmpWed, 27 Apr 2011 12:01:40 +000001Wednesday 29, 2008 at 9:59 p04

    oke makasih; mari sama2 menjemput bola

    Kasnoto said:
    ampFri, 20 May 2011 03:36:56 +000036Friday 29, 2008 at 9:59 p05

    Yg perlu dirubah itu bukan nama kampusnya akan tetapi yg harus dirubah adalah para diqma pengajarannya khususnya dosen2nya harus disekolahkan lagi dengan pemahaman yang benar sebagaimana pemahaman ulama’ salaf ; yaitu al Qur’an wassunna alaa fahmi salaful ummah”
    sebagaimaman qoidah ulama’ al haqiiqotu laa tughoiyyiru asmaa’
    Bahwa hakikat itu tidak bisa merubah sebuah nama

    Dedi Syaputra responded:
    ampFri, 17 Jun 2011 08:01:09 +000001Friday 29, 2008 at 9:59 p06

    insallah, paradigma itu sudah mulai berjalan di uin

    galang rambu prdamaian said:
    pmpMon, 24 Mar 2014 15:38:05 +000038Monday 29, 2008 at 9:59 p03

    adakalanya perubahan menjadi sangat pntng, tp ada pula sebaliknya

    galang rambu prdamaian said:
    pmpMon, 24 Mar 2014 15:51:25 +000051Monday 29, 2008 at 9:59 p03

    -pas rasonyo, kok rasa curiga bergelayut diddku, apo ndak mmpermudah msknya budaya urangtu

    Dedi Syaputra responded:
    pmpMon, 27 Jun 2016 16:05:48 +000005Monday 29, 2008 at 9:59 p06

    Tentu yang positif pak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s