ABSTRAK “ETIKA POLITIK IBNU TAIMIYAH”

Image Posted on Updated on

Islam tidak sedikit dianggap sebagai agama politik moral sebagai representasi dan pengijawantahan dari aspek hukum Islam, yang mengatur seorang muslim dalam berbagai aspek kehidupan keagamaan, sosial dan politik. Aturan itu yang mengatur hubungan penguasa dengan rakyatnya, hubungan sosial dan politik, Muslim dan non-Muslim semuanya diperlukan tatanan etika, atau perilaku moral menjadikan hukum-hukum agama sebagai sumber penetapan sangsi moral. Islam memiliki dimensi-dimensi etika politik yang jauh lebih komprehensif, mulai dari dimensi tujuan, sarana dan aksi dari aktor politik itu sendiri. Akan tetapi dalam etika politik, perilaku seorang pemimpin menentukan arah kebijakan bagi yang dipimpin, kehendak baiknya yang ditopang institusi (hukum, aturan, kebiasaan, lembaga sosial) yang adil, mampu berperan mengorganisir tanggung jawab atas etika yang lahir dari sebuah kesepakatan bersama (konsensus/ijmak). Etika politik Ibnu Taimiyah, melihat semua pola hubungan manusia dengan rasa kemanusiaan, sekaligus mengarahkan kaum muslim untuk meraihkan kekuatan dan kemuliaan dengan mengukir sejarah kebesaran. Ungkapan tersebut sesungguhnya, Ibnu Taimiyah menginginkan ada pola pelayanan yang baik antar manusia, yang beroperasi dengan dakwah “seruan proporsonal” manhajiyah, menciptakan hubungan yang transparan atas kepentingan bersama antar umat yaitu pemimpin dengan yang dipimpin, yang mengembalikan hukum dengan perbuatan manusia menuju pada hukum transedental ciptaan Allah SWT, di dalamnya terdapat rincian penerapan hukum dalam kehidupan manusia Dalam kerangka itulah penulis melihat gagasan tersebut, Ibnu Taimiyah tampil dengan konsep amal ma’ruf nahi mungkar-nya “etika politik”merupakan kewajiban semua umat Islam untuk melaksana tanggung jawab ini, dalam rangka untuk memilihara rakyat “people” dari negara yang melupakan keadilan dan amanah atas titipan Tuhan. Kajian ini merupakan penelitian kepustakaan, dengan mengunakan pendekatatan deskriptif analitik, yaitu secara sistematik peneliti mendeskripsikan dan mempelajari karya-karya Ibnu Taimiyah berupa latar belakang pemikiran dan sosial politik kehidupannya, hermeneutika salah satu cara penemuan kembali (hermeneutics of recovery) sebagai penegasan tujuan dari interprestasi untuk menemukan makna asli suatu praktek sosial atau politik tertentu. Menurut penulis, karya al-Siyâsah al-Syar’îyyah fî Ishlâh al-Râ’î wa al-Ra’îyyah Ibnu Taimiyah panduan utama penulis dalam penelitian ini. Dalam proses penegakan pemerintahan yang baik, gagasan besar yang diinginkan oleh Ibnu Taimiyah negara yang ideal adalah melaksanakan prinsip-prinsip atau nilai-nilai politik yang baik yaitu akuntibel (al-amânah), keadilan (al-adâlah), persaudaraan (al-ukhûwah), menghargai kemajmukan atau pluralisme (al-ta’addudîyah), persamaan (al-musâwâb), permusyawaratan (al-syûrâ), mendahulukan perdamaian (al-silm) dan kontrol (amr bi al-ma’rûf nahy ‘an al-munkar), al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber utama dalam pandangan hidup (way of life), standar etika bagi Ibnu Taimiyah adalah berdasarkan wahyu Tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s