Tempat Persingahan


komentar mu kawan, membuat  gairah saya untuk lebih maju……

de_disyaputra@yahoo.com

alam sahabat kita sebelum kita dilahirkan

66 thoughts on “Tempat Persingahan”

  1. dedi ma aan sama aj, ngomong masalah theologi! apa itu theologi? apakah masyarakat membutuhkn theologi ketika dia lapar? masyarakat sibuk ngurusin perut, ngomong masalah theologi angap aj selesai… kenyangkan dulu masyarakat baru ajak dia untuk memikirkan akhirat, lapar ga’ akan hilang, penindas ga’ akan pergi dan penjajahan ga’ akan runtuh kalo kita hanya duduk memutar tasbih dan menitikan air mata! Tuhanpun masih berproses untuk menciptakan kita, aapalagi manusia yang diciptakan.

  2. tanggapan buat sdr : afif
    ya salam knlnya, jawaban u 100 persen persis apa yang saya ungkapkan awal saya kuliah. koz tuhan lebih tahu kok”” oke
    ketika anda bertanya apa theologi enak u jawab sendiri itu akan lebih baik. so rekontruksi berpikir u saya yakin sudah bisa untuk memahaminya.
    thank you atas saran

  3. To Dedi : jawaban saya bukan “Tuhan lebih tau Kok” seingat saya, saya g prnah jawab sepereti itu. theologi bukan enak ato ga enak, teologi lebih dr itu, teologi berada dalam ranah berpikir dan bertindak manusia. so, kita jgn terjebak dgn teologi feodal yang mengajak kita untuk berpasrah diri. OK, konstruksi [bukan rekonstruksi :)] berfikir saya bisa menjawab itu semua, tetapi apakh tidak bs didiskusikan? sendiri kita kaji, berdua kita diskusi, bertiga kita aksi.
    thks broth…
    regards

  4. ded piye kbare?
    pas gwa buka blok u e…..ternyata ada foto nyonya kaget gwa?bagus juga?
    pesen buat yang di foto?
    knapa cuma numpang lewat aja?
    ga’ sekalian ngejogrox aja?he…he…he…
    oya ded?u masih sering kesleman ga?gwa kangen bgt pingin kesana tp gmn?gwa skrg dah punya gandengan yaitu istri. sorry gwa ga ksh kbr u?soalnya pas u kelampung gwa suruh mampir ngomong ga ada kndraan?padahal gwa pingin kasih tau u?klo u dtng kerumah gwa?

  5. Amerika dan sekutunya kebakaran jenggot, setelah kemenangan Ahmadinejad yang kedua kalinya. wajar AS dan Sekutunya kebakaran jenggot, karena sebuah kebiasaan yang dilakukan oleh negara adi daya tersebut, ketika sebuah negara yang tidak mau berlutuk kaki kepada AS dan anteknya.

    menurut saya yang perlu dilakukan oleh AS adalah diplomatis, jangan jadi negara provokator trus, persoalan dalam waktu yang singkat, AS adalah musuh bagi dari hambanya sendiri.

    yang dibutuhkan oleh dunia-dunia yang bakal maju dari AS adalah kesamaan HAK, atas keadilan. contoh Hak Veto perlu direvisi kembali. IRan butuh NUklir juga, KOrut sama, kenapa harus ada perbedaan. konsep demokrasi yang digagas oleh AS kenapa dilanggar sendiri?????

    malu donkk???

  6. mencoba untuk berkomentar atas statman andi malaranggeng, menurut hamat saya, ucapan andi tidak mencerminkan seorang politikus yang menunjukan bahwa seseorang yang sangat menghargai kebebasan untuk keberpihakan, seharusnya andi banyak belajar tetang pendidikan multikultural dan political kultural.

    kedua, statman andi mengkardilan masyarakat sulawesi sendiri, baik dalam kancah politik maupun keebebasan berpolitik

    ketiga. statmen itu bisa menghancurkan tatanan nilai budaya masyakat sulawesi, yang sangat menjunjung nilai kebudayaan.

    saran saya, main cantik seharusnya. oc

  7. Di tunggu Komentarnya….

    Hidup tak Sekedar Urusan Perut

    Tentang sebuah Desa yang tak kunjung maju, bahkan justru tertinggal
    Apakah mereka sedang tertatih-taih oleh ketidaktahuan
    Apa yang harus dilakukan untuk mengubah itu semua

    Dalam setiap kesehariannya, usai shalat Shubuh, hampir keseluruhan penduduk di Desa Empelu, Kecamatan Tanah Sepenggal, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi (mungkin juga terjadi di hampir keseluruhan pelosok Desa di negeri ini) berbondong-bondong memecah sunyi dan berjalan mengikuti irama bunyi sepatu bot, sandal jepit serta gesekan bersahabat antara kaki dan batu kerikil sepanjang jalan. Tujuannya bermacam-macam, ada yang ke sawah untuk menanam atau bahkan memanen padi, ada juga yang ke kebun karet dan masih banyak aktivitas penyambung hidup lainnya yang dilakukan oleh mereka dalam sehari-hari. Sungguh indah lukisan masyarakat desa tersebut, manakala para seniman lukis gemar memindahkan potret riil tersebut ke dalam beragam ukuran kanvas. Namun yang pasti, kisah tersebut menggambarkan ada semangat yang serentak untuk menghargai kehidupan sebagai titipan Ilahi yang harus diolah dan dimanfa’atkan.
    Waktu pagi adalah luapan rezeki yang sangat dinanti. Ada idiom yang berkembang di kalangan orang tua di Desa itu yang kebetulan selalu menjadi menu utama nasihat pada anak-anaknya: nak, jangan tidur di waktu pagi, nanti kamu kehilangan rezeki. Begitu nasihat yang secara turun temurun terjaga sampai saat ini.
    Semua berderu dalam kerja nyata, bukan mimpi yang selalu dianak pinak oleh sikap malas tentang kekayaan yang tidak dilalui dengan proses menggali, mencari dan memanfaatkan segala sesuatu yang Halalan Toiiban di muka bumi ini, atau bukan tawaran ilusi dari para pemain sinetron tentang kekayaan yang datang serba dadakan.
    Bagi mereka, kerja keras adalah manifestasi dari sikap kesungguhan yang telah lama ditempa oleh generasi sebelumnya, bahkan juga bagian dari didikan alam. Fakta menujukkan, banyak orang yang mengakui sifat kerja keras mereka, bahkan sangking tingginya etos kerja yang dimiliki, hari piknik bersama buah hati dan istri, apalagi sanak keluarga jarang ada di dalam kamus hidup mereka. Singkat kata, bekerja dan bekerja. Begitu lah putaran waktu dalam pikiran dan tindakan mereka.
    Akan tetapi, sebagai manusia yang hidup di zaman samacam ini, sebuah zaman yang tidak lagi mengenal tapal pembatas antara teritorial sebuah Negara, Provinsi, Kabupaten, Desa, dan sampai batasan yang cukup abstrak sekalipun seperti identitas diri, dan kelompok ternyata tak lagi relevan dijaga dengan super kaku dan ketat. Pendek kata, tindakan pelarian dari garis sejarah yang sedang berkembang saat ini resiko nya adalah dilindas oleh lawan tampa ampun dan kasihan. Dengan demikian, harus ada progressive changes dalam pola pikir masyarakat dan aparat Pemerintah Derah setempat sehingga kelak mampu menerima segala macam tradisi positif yang sedang berkembang di jagat alam raya ini.
    Pertanyaanya adalah, selesai kah sebuah pekerjaan sebagai bagian dari sejarah yang praksis ketika kerja keras hanya berkaitan dengan penumpukan harta di sebuah gudang yang telah direncanakan pada malam harinya bersama buah hati dan sang istri. Kalau hal itu benar tejadi, bukan kah ini adalah bentuk dari masyarakat yang menuhankan isi perut ketimbang proyeksi tentang masa depan yang maju dan sentosa. Di samping itu, sudahkah merasa puas mewarisi tradisi atau ilmu yang serba terbatas kepada generasi berikutnya. Seandainya hal ini juga terjadi, bukan kah ini pertanda masyarakat kita sedang dijangkit penyangkit enggan berbenah diri dan gemar menutup diri.
    Menurut hemat saya, Desa Empelu (atau bahkan Desa lainnya) jangan lagi sebatas lumbung harta yang tidak bermanfa’at bagi keberlansungan sejarah peradaban manusianya, atau jangan lagi menjadi kambing congek para Konglemarat, Toke, atau Juragan kota-desa yang hanya memikirkan keuntungan pribadi. Hari ini jangan lagi dipahami sebatas hari ini, melainkan hari esok sudah harus dicanangkan jauh sebelumnya. Maka dalam perspektif ini lah nantinya kerja keras memiliki korelasi yang erat dengan perbaikan kualitas hidup masyarakat desa.
    Bagaimana mewujudkan hal itu, tentu harus ada revolusi berpikir dan bertindak demi satu cita-cita yang tak lekang di makan waktu, yaitu perlunya menggalakkan semua komponen masyarakat untuk berjuang bersama-sama melahirkan generasi yang siap tanding dalam segala macam situasi dan kondisi. Untuk mewujudkan harapan tersebut tentu harus ada pemahamaan filosofis dan upaya-upaya strategis, seperti mewujudkan gerakan ayo bersekolah, ayo majukan lembaga pengajian Majelis Ta’lim, dan ayo majukan segala macam bentuk pertemuan muda-mudi, serta para orang tua yang diharapkan mampu merajut tali persatuan, sehingga gejolak konflik horizontal yang sering terjadi selama ini bisa diredam.
    Diakui, selama ini semua sektor pengembangan diri (formal-informal-nonformal) tampak berjalan rapi, misalnya, tiap tahun tingkat aksessibilitas terhadap pendidikan formal dinilai meningkat, terutama pada jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), sedangkan untuk Perguruan Tinggi (PT) masih cukup rendah, karena disebabkan banyak faktor, di samping belum adanya kesadaran akan pentingnya melanjutnya studi ke jenjang yang lebih tinggi, juga karena biaya kuliah yang kian melonjak tinggi. Sementara lembaga/komunitas pengajian Majelis Ta’lim di waktu sore menjelang maghrib juga tetap diadakan hingga kini, dan ragam pertemuan para pemuda serta orang tua juga ramai dilakukan.
    Akan tetapi, kembali kita dijejal sebuah pertanyaan mendasar yakni sudah kah aktivitas tersebut menjadi wadah pembangunan serta pengembangan bagi seluruh Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada, atau hanya aktivitas yang justru miskin nilai. Tentu ini adalah pekerjaan berat kita semua untuk berani mengakui dan menelaah ulang budaya yang sudah kadung mentradisi dari setiap generasi hingga kini.
    Singkat kata, sebagai langkah awal, menurut hemat saya ada beberapa catatan yang harus digaris bawahi, terutama oleh Pemerintah Daerah maupun masyarakat Desa itu sendiri, yaitu:
    Pertama: adanya jaminan memperoleh pendidikan, terutama bagi mereka yang tidak mampu. Kesempatan tersebut harus dilanjutkan dengan mengubah cara pandang terhadap sekolah, yakni sekolah tidak lagi dipahami sebatas aktivitas yang dipenuhi oleh gengsi sosial atau ikut-ikutan, melainkan pilihan yang diawali oleh kesadaran tingkat tinggi, baik dari individu maupun orang tua atau bahkan pemerintah setempat tentang pembenahan kualitas pribadi dan perbaikan sosial, ekonomi dan budaya. Kenapa? Karena pendidikan hingga kini diyakini mampu melakukan mobilitas vertikal secara cepat. Dalam bahasa Jhon Dewey, education is social continuity of life.
    Kedua: lembaga atau komunitas pengajian Majelis Ta’lim yang ada di setiap rumah maupun surau tidak lagi dilakoni layaknya nahkoda tanpa Kompas dan Peta, melainkan harus ada target untuk mentransformasikan nilai-nilai agama yang inklusif dan bersedia menerima segala macam tradisi baru (baik yang datang dari dalam maupun luar) untuk menjadi way of life dalam mengaruhi bahtera rumah tangga atau dalam komunitas yang lebih besar (negara).
    Ketiga: pendidikan non-formal, seperti pengajaran keterampilan harus selalu digalakkan dan disiapi secara matang sebagai sikap aktif dan solutif untuk mengantar masyarakat Desa agar bisa berperan serta dalam mengarungi kehidupan di zaman yang semacam ini, terlebih mengingat sumber daya alam kian berkurang. Ketika sumber daya alam surut, sumber daya manusia lah yang harus selalu dikembangkan, karena hanya ini yang bisa menjadi solusi jangka panjang. Contohnya, tidak sedikit negara yang tidak memiliki aset sumber daya alam justru bisa berkembang dengan pesat, sebut saja negara Jepang dan Singapura.
    Sedangkan untuk pertemuan informal, seperti pertemuan para pemuda atau orang tua juga harus mulai bergeser dari paradigma lama yakni dari obrolan tanpa isi, atau dalam bahasa jawa hanya sebatas leyeh–leyeh sing ora mutu (obrolan santai yang tidak bermutu) menjadi pertemuan yang berkualitas, salah satu contohnya adalah selalu berupaya mewujudkan iklim komunikasi dan interaksi yang kondusif dan bersahabat antara sesama, sukur-sukur dari obrolan informal tersebut lahir ide-ide cemerlang tentang perbaikan kualitas hidup bersama. Sehingga budaya partisipatif serta jauh dari kepentingan individual yang picik bakal menghantarkan mereka dalam keadaan tenang dan tenteram.
    Maka dengan ini, tentu kemungkinan hari cerah bagi kemajuan Desa Empelu bisa tercapai. Adalah merupakan suatu kebahagiaan, manakala Desa Empelu berkembang bukan karena semata-mata mengandalkan Sumber Daya Alam dan tujuan duniawi yang hanya memikirkan kegemukan perut, tetapi karena keinginan yang kuat dari segala komponen masyarakat untuk menjalani drama kehidupan yang lebih berharga dan bernilai, salah satu bentuknya adalah mementingkan pendidikan (formal-informal-nonformal) -sebagai wadah strategis untuk memperoleh ragam macam ilmu- selanjutnya bakal melahirkan generasi yang kritis, terbuka dan siap mengarungi era yang dalam pandangan Anthony Giddens disebut era running away.
    Solusi yang terdapat dalam tulisan ini bukanlah jauh panggang dari api, melainkan siraman pengalaman yang bertubi-tubi membuat saya (mungkin juga kawan-kawan yang lain) sebagai anak Desa yang kebetulan sedang hidup di sebuah kota yang notabene jauh lebih unggul (SDM -red), merasa terenyuh dan tak jarang meratapi tanpa air mata betapa orang-orang di Desa ku sedang berjalan tanpa Kompas dan Peta, dan sekaligus sedang dibawa oleh nahkoda (Pemerintah daerah Hingga Kades sekalipun) yang tidak mengerti apa-apa tentang pelabuhan yang bakal dituju.
    Akhirnya, harus ada political will sekaligus political action dari semua lapisan masyarakat, terutama pemerintah dan para insan-insan pendidikan untuk memikirkan bagaimana mengevaluasi pemahaman-pemahaman yang justru di lapangan jauh dari keinginan untuk menghasilkan perubahan yang fundamental di Desa Empelu tersebut.
    Dalam kasus tertentu, khusus bagi bapak Pemerintah Daerah serta Kepala Desa agar mensegerakan diri mencari tindakan-tindakan preventif guna mengatasi ‘krisis’ yang sedang terjadi di tempat yang sedang dipimpin dan sekaligus memanfa’atkan segala pontensi (SDA-SDM) yang dimiliki untuk mewujudkan Desa yang betul-betul memiliki orientasi pengembangan Sumber Daya Mansuia secara berkesinambungan. Seandainya ada kebijakan-kebijakan yang justru memperlamban atau membatasi proses pengembangan diri masyarakat Desa harus segera dimusnahkan, seperti kebebasan berorganisasi dan mengemukakan pendapat.
    Dalam imagi nakalku, terkadang sempat terlontar satu anggapan yang tampaknya cukup menggelikan, tetapi kalau dilihat dalam perjalanannya mungkin ada benarnya. Proses lahirnya Istilah nakal tersebut karena melihat rekam kejanggalan yang terjadi di lapangan. Di satu sisi, Desa empelu itu memiliki kekayaan alam yang mencukupi, namun karena tidak dikelola dengan baik, kekayaan tersebut hanya berguna untuk berlomba-berlomba menggemukkan perut dan status sosial, sementara di lain sisi para pejabat juga terlihat santai, tidak memiliki orientasi masa depan, mungkin hal itu dikarenakan mapan oleh jaminan ekonomi, kesehatan dan fasilitas lainnya yang telah didapatkan semenjak awal bekerja. Maka saya mengistilah Desa Empelu itu sebuah Desa sing ora sido makmur (Desa yang tak jadi makmur).
    Karena memang dari sudut etimologi Ora Sido Makmur kurang mendukung terciptanya adrenalin masyarakat yang berkinginan maju, maka saya mengusulkan agar nama Desa Empelu (sing ora sido makmur -imagi-red) dirubah menjadi Desa Maju Sentosa. Harapannya adalah, di samping menjadi Desa yang memiliki lumbung harta yang Halalan Toiiban juga sekaligus memiliki generasi yang cerdas dan amanah, sehingga suatu saat masyarakatnya bisa maju dan sentosa, tur tidak gampang dibodohi.
    Apa yang dimaksud dengan Maju. Secara sederhana, maju adalah potret individu atau masyarakat yang memiliki kesiapan intelektual, (ditemani kekuatan moral dan ketaatan hukum) untuk siap bertanding dalam kancah peradaban dunia saat ini. Sedangkan sentosa adalah satu keadaan jiwa yang tenang, tentram dan mampu membentuk perilaku sosial yang tidak mendahulukan ego pribadi maupun kelompok. Semua menyatu dalam kesejahteraan yang adil.
    Pertanyaan pokok dalam tulisan ini adalah:

    Betul kah gambaran di atas juga sedang terjadi Desa anda, apa yang harus disikapi dan bagaimana upaya tindak lanjut untuk mengatasinya?

    Yogyakarta, 22 Juli 2009

    Pendapat pribadi,

    Joemardi Poetra

  8. itulah sebagian warna warni kehidupan masyarakat indonesia, ada yang mernarik terhadap tulisan tersebut, yaitu ketidak pantasan manusia untuk menyia-yiakan waktu di kala subuh terhenti, karena itu waktu yang paling istimewa serta di takut buat sebagian orang.

    khusus desa empelu, identitas yang belum terpengaruh oleh warna serta hasil dari sebuah keilmuan, ketika ada hal yang membuat dia akan berubah, maka ketika itupula sistem lama akan berubah untuk membangun sebuah sistem baru yang sangat sistematis serta buah dan warna keilmuan tersebut akan tampak. sekarang kita masih nunggu hal tersebut datang atau di datangkan dengan irama yang sesuai kontek masyarakat tersebut.

    saya yakin suatu saat desa anda akan berubah dengan apa yang anda harapkan, hal inilah yang akan membentuk sebuah historikal baru terhadap desa anda.

    yang jadi permasalahan apakah anda akan datang membawa perubahan tersebut, atau anda sebagai otokritik yang tergores di kerta yang belum punya arti terhadap perubahan di desa anda.

    terima kasih anda telah mengkritik desa saya. ASS

  9. kemerdeka sebuah identitas bangsa yang terkoyakkan

    64 tahun setelah kemerdeka, usia yang sangat matang bagi manusia untuk mengemban amat sebagai seorang manusia. 64 tahun sebuah identitas hidup yang sangat semperna.

    ini kemudian yang membuat sebuah diagnosa yang tidak bagus oleh sebagisn masyarakat kita, mencabit, mencoreng, serta membuat mereka tidak adil diantara mereka sendiri. pertama : tororisme kedua, keadilan sosial, ketiga, kesamaan depan hukum.

    isu toror yang terjadi sangat mencorengkan martabat serta harga diri indonesia, padahal indonesia sebuah negara yang bunya segudang adat istiadat , budaya, dan beribu juta kriatifitas yang di bentuk oleh masyarakatnya sendiri sesuai dengan karakter, ilustrasi, dan imajinasi sendiri-diri.

    teror sebuah tindakan pidana yang sangat berat, karena efek yang timbulkan olehnya membangun sebuah paradikma ketakutkan dan was-was kepada setiap orang, ini yang dikatakan melanggar hak asasi manusia karena fredom yang di miliki oleh orang sudah dipakas dengan rasa takut serta keyamanan dalam berpergian sudah tiada lagi.

    kedua, keadilan sosial

    keadilan sosial, menurut penafsiran bung karno adalah tidak ada yang membedakan atas dasar hak seseorang untuk jadi kaya atau sebalikanya, akan tetapi ada sebuah usaha dari pihak yang padasarnya sebuah tanggung jawab mereka atas hal tersebut. contoh pemerintah kita, harus ada sebuah usaha baru untuk membuat sebuah keadilan sosial, meskipun keadilan perspektif manusia, harus dijalankan. usaha itu yang sangat dibutuhkan yang diikuti dengan membetuk cara lain untuk mengetaskan minsala, kemiskinan, kuliah biaya murah, semua orang bisa mengakses pendidikan, tidak ada clasifikasi dalam memberi kesejahteraan kepada daerah. dll.

    kesamaan didepan hukum

    kasus yang tidak mementikan asas keadilan, saya melihat banyak sekali, prita, anak yang ditangkap diduga main judi, ini harus cepat diambil tidakkan, karena meletakan sebuah hukum tidak pada tempatnya. bicara hukum jangan hukum ditegakan demi kepentingan hukum semata, tatapi kepentingan keadilan(law for justiec)

    tardisambung lagi battra lowbet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

"Islam itu indah, dan suka keindahan"

%d bloggers like this: