Category Archives: Wacana

PERUBAHAN IAIN KE UIN “MEMBANGUN SEBUAH PARADIGMA BARU”

Oleh Dedi Syaputra
A. Pendahuluan
Perkembangan modern Islam timbul sebagia akibat dari perubahan-perubahan besar dalam demensi kehidupan manusia yang dibawa oleh kemajuan dalam ilmu pengetahuan. Masalah-masalah yang ditimbulkan dalam bidang keagamaan, termasuk Islam lebih pelik yang terdapat dibidang-bidang kehidupan. Salah satu sebabnya adalah karena dalam agama terdapat ajaran-ajaran yang absolut, mutlak benar, kekal, tidak dapat dirobah, dan mengkontekkan halal dan haram pada dataran yang sangat mudah. Dari persoalan itu, agama seolah jadi Tuhan nomor dua di dunia, tidak bisa di gugat, dan menimbulkan dogmatis dalam agama, yang melahirkan sikap tertutup dan tak bisa menerima pendapat yang bertentangan dengan dogma-dogma yang dianutnya. Sikap sepertinya membuat orang berpegang teguh pada pendapat-pendapat lama dan tidak bisa menerima perubahan. Sikap dogmatisme ini membuat orang bersikap tradisonal, emosional dan dan tidak rasional. Sedangkan sifat dari ilmu pengetahuan dn teknologi adalah perkembangan, selalu mengalami perubahan dan membawa perubahan dalam kehidupan. Continue reading PERUBAHAN IAIN KE UIN “MEMBANGUN SEBUAH PARADIGMA BARU”
Advertisements

Komentar wahyu dan akal dalam karangan Noel J. Coulson

Perkembangan hukum idealnya sejalan dengan perkembangan dialektika dari perkembangan pemikiran masyarakatnya, baik itu dari segi sosiologis, sosial, ekonomi, dan politik. Artinya penelitian hukum secara empiris atau sosiologis merupakan refleksi tata nilai yang di yakini masyarakat sebagai pranan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara; muatan hukum seharusnya mampu mengakomodir dan menangkap aspirasi masyarakat yang tumbuh berkembang yang bersifat kekinian. Continue reading Komentar wahyu dan akal dalam karangan Noel J. Coulson

KONSEP TATA NEGARA WILAYAT AL-FAQIH DALAM SISTEM POLITIK ISLAM SYI’AH IMAMIYAH

A. Latar Belakang Masalah
Dewasa ini, Syi’ah dan politik seringkali diletakkan sebagai dua kata yang tidak mungkin dipisahkan. Dibanding dengan paham Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama’ah), Syi’ah dianggap lebih politis. Dilihat dari aspek sejarahnya pun, Syi’ah memang lahir karena faktor politik, yakni menyangkut masalah siapa yang berhak menggantikan kepemimpinan Nabi Muhammad SAW sepeninggal beliau. Masalah politik (kekuasaan) dalam Islam inilah yang menjadi sumber “perpecahan” antara Sunni dan Syi’ah.
Keterkaitan yang sangat erat antara Syi’ah dan politik, memang dapat dimaklumi. Sayid Muhammad Husein Jafri mengatakan: “Sebagaimana Nabi Muhammad SAW yang pada dasarnya seorang guru keagamaan, namun pada saat yang sama, karena keadaan, juga sekaligus sebagai penguasa duniawi dan negarawan.” Begitu juga Syi’isme, dalam watak yang dibawanya selalu bersifat religius dan politik, dan oleh sebab itu, pada tingkat eksistensinya, sulit dibedakan mana “Syi’ah religius” dan mana “Syi’ah politik.”
Di kalangan umat Syi’ah hampir tidak dikenal pemisahan antara agama dan politik, baik dalam tataran konseptual maupun praktek politik. Setiap bentuk ritual keagamaan selalu dikaitkan dengan “ritual politik”. Dengan kata lain, hampir selalu ada dimensi sosio-politik dalam setiap upacara keagamaan. Salah satu contoh yang paling jelas adalah shalat Jum’at. Di Iran yang bermazhab Syi’ah, shalat Jum’at sangat “politis”. Ayatullah Khomeini pernah menegaskan bahwa selama gaibnya Imam al-Mahdi, shalat Jum’at tidak wajib, melainkan hanya sunnah muakkad (sangat dianjurkan). Alasannya, shalat Jum’at hanya wajib jika hukum Islam sudah ditegakkan dengan sempurna, dan ini hanya bisa dilakukan oleh Imam al-Mahdi. Oleh sebab itu, selama berkuasanya Dinasti Pahlevi, tidak ada shalat Jum’at di Iran. Sebaliknya, bagi umat Islam bermazhab Sunni, shalat Jum’at tetap wajib bagaimana pun sistem yang berjalan.
Continue reading KONSEP TATA NEGARA WILAYAT AL-FAQIH DALAM SISTEM POLITIK ISLAM SYI’AH IMAMIYAH

Rasio dan Kepercayaan

Tuhan datanglah kedalam pikiran Q*

Manusia seluruhnya memiliki beberapa jenis kepercayaan, bagaimana mereka sampai kepada kepercayaan-kepercayaan itu sangat bervariasi, dari argumen yang dinalar sampai kepada keimanan buta. Sebagian kepercayaan berdasarkan pengalaman personal, pendidikan, dan indoktrinasi. Banyak kepercayaan yang tak diragukan lagi merupakan bawaan, kita dilahirkan bersama kepercayaan itu sebagai akibat dari fakta-fakta evolusioner[1]. Beberapa kepercayaan yang kita rasakan dapat kita temukan landasan pembenarannya. Dalam Agama Islam kita menemukan adanya Al-Qur’an dan Hadis Nabi sebagai pedoman hidup, Kristiani ada Injil dan sebagainya.

Continue reading Rasio dan Kepercayaan